Senin, 31 Oktober 2011 16:29
JAYAPURA—Ketua Pelaksana Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua drh. Constant Karma menegaskan, sunat atau sirkumsisi sebagai upaya pencegahan virus HIV dan AIDS, ternyata mampu pula mengobati penyakit herpes atau gejala melepuh kulit pada penis yang diderita seorang dokter selama 20 tahun terakhir ini. “Dokter ini menyampaikan kepada saya via SMS bahwa setelah mengikuti penjelasan sunat di Jayapura beberapa waktu lalu dia melakukan sunat, ternyata setelah itu dia tak lagi menderita penyakit herpes pada kemaluannya yang dialaminya selama 20 tahun,” ujar Constant Karma yang juga menjabat Sekda Provinsi Papua usai pertemuan bersama Tim Komisi VIII DPR RI dan stakeholder (pemangku kepentingan) membahas masalah sosial dan keagamaan di Papua di Aula Sasana Karya, Kantor Gubernur Papua, Jayapura, Senin (31/10). Namun demikian, Sekda Provinsi Papua tak menjelaskan secara detail identitas dokter yang sembuh dari penyakit herpes tersebut. Tapi SMS dari dokter masih disimpannya. Sebagaimana pengakuan dokter tersebut, katanya, selama 20 tahun menderita penyakit herpes telah melakukan pelbagai pengobatan tapi tak pernah sembuh. Tapi ketika dia sunat karena mendengar penjelasan dari KPA Provinsi Papua bahwa sunat atau sirkumsisi mampu mencegah virus HIV dan AIDS ternyata penyakit herpes hilang .
Menurutnya, selama 3 tahun pihaknya melakukan dialog dan sosialisasi tentang sunat di Jayapura, Merauke, Biak dan lain lain ia belum pernah mendapatkan protes atau bantahan dari masyarakat. (mdc/don/l03)
Bintangpapua.com
Selamat datang di RUMAH SUNAT AL IKHWAH BALI
"Jadikan hidup anda lebih bersih dan sehat"
Rumah Sunat Al Ikhwah Bali (circumcision specialistic in Denpasar Bali dengan hipnoanestesi)
Rumah Sunat Al Ikhwah berdiri pada bulan juli 2006 dan sampai sekarang masih berkhidmad di dalam pelayanan jasa khitan untuk wilayah Bali dan sekitarnya, bahkan pasien yang datang sampai dari makasar, irian jaya, kupang, lombok, jogjakarta, banyuwangi, jember, jakarta, medan dan surabaya. usia pasien yang di layani di RSAI sangat bervariatif, dari umur 0 tahun sampai 90 tahun sering di tangani, tentunya dalam masalah khitan ini tidak ada kata terlambat, umur berapapun bisa dan tidak ada permasalahan. dokter yang bertugas di RSAI adalah dokter yang khusus menangani khitan atau sunat (spesialistik di bidang sunat/khitan), sehingga dari segi pengalaman dan kualitas sudah tidak di ragukan lagi. Yang terbaru adalah kombinasi antara hipnosis sederhana dan anestesi dengan minimal rasa sakit "HIPNOANESTESI", dengan metode bius ini sunat menjadi semakin nyaman dan benar2 bisa tanpa rasa sakit atau minimal sekali rasa sakit (pada anak-anak yang sudah siap sunat secara psikologis). kedepan RSAI akan senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan dan mengembangkan berbagai metode yang lebih canggih, cepat dan tepat untuk khitan atau sunat.
Sabtu, 14 Januari 2012
PBB Kampanyekan Khitan untuk Kurangi Risiko Penularan HIV
ADDIS ABABA- Organisasi AIDS PBB (UNAIDS) dan Rencana Darurat Presiden Amerika bagi Pemberantasan AIDS (PEPFAR) mengumumkan kampanye berjangka lima tahun untuk membujuk kaum lelaki di 14 negara Afrika agar secara sukarela melakukan khitan. Berbagai penelitian belakangan ini menunjukkan bahwa khitan mengurangi risiko penularan HIV melalui hubungan seks lelaki dan perempuan hingga sekitar 60 persen.
Direktur UNAIDS Michel Sidibe mengatakan, menambahkan khitan pada strategi pencegahan dapat menurunkan kasus penularan secara dramatis.
“Jika ada penurunan 60 persen, dan mengombinasikannya dengan langkah-langkah pencegahan lainnya, kita dapat mulai mengurangi jumlah penularan baru melalui hubungan seksual hingga lebih dari 50 persen.” Ujar Sidibe.
Empat belas negara yang ditarget UNAIDS adalah Afrika Selatan, Botswana, Ethiopia, Kenya, Lesotho, Malawi, Mozambik, Namibia, Rwanda, Swaziland, Uganda, Tanzania, Zambia dan Zimbabwe.
Sidibe mengatakan, pengalamannya bekerja bersama masyarakat Luo di Kenya telah membuatnya yakin bahwa kaum lelaki akan berkhitan secara sukarela begitu mereka memahami dampaknya.
“Sewaktu di Kenya saya mendatangi wilayah Luo, di mana mereka menolak mentah-mentah khitan pada lelaki, karena selama ratusan tahun mereka tidak pernah melakukannya. Sewaktu kami berusaha mengajak para sesepuh dan mengerahkannya, perubahannya menakjubkan. Orang-orang yang semula menolak khitan, sekarang malah memintanya, dan pihak yang berwenang bahkan tidak tahu bagaimana mengelolanya,” paparnya.
Sidibe mengatakan kunci lain bagi kesuksesan kampanye berkelanjutan untuk memberantas AIDS adalah membujuk pemerintah negara-negara Afrika agar mengambil peran utama, bukannya bergantung pada dana dari donatur-donatur seperti PBB dan Amerika Serikat.
“Harapan saya adalah dapat melibatkan pemimpin Afrika dan membuat mereka memahami bahwa kita tidak dapat membiarkan orang-orang yang dirawat seumur hidup bergantung pada sumberdaya dari luar. Penting diingat bahwa tanggungjawab merekalah untuk mencari dana di dalam negeri dan berusaha berinovasi dalam hal pembiayaan di benua ini,” katanya.
Koordinator Global AIDS Amerika, Eric Goosby mengatakan bahwa dalam era anggaran yang ketat sekarang ini, negara-negara donor akan menuntut keterlibatan lokal yang lebih besar.
Goosby, Sidibe dan mantan presiden Botswana, Festus Mogae, termasuk di antara pejabat tinggi yang menghadiri ICASA, Konferensi Internasional mengenai AIDS dan Penularan Penyakit melalui Hubungan Seksual di Afrika.
Pertemuan selama lima hari di Addis Ababa itu menarik sebagian pakar terkemuka dunia, para pejabat dan aktivis, untuk membahas tren dan temuan-temuan ilmiah terbaru dalam perang melawan AIDS. (voa/agg)
VOA (voice of America)
Direktur UNAIDS Michel Sidibe mengatakan, menambahkan khitan pada strategi pencegahan dapat menurunkan kasus penularan secara dramatis.
“Jika ada penurunan 60 persen, dan mengombinasikannya dengan langkah-langkah pencegahan lainnya, kita dapat mulai mengurangi jumlah penularan baru melalui hubungan seksual hingga lebih dari 50 persen.” Ujar Sidibe.
Empat belas negara yang ditarget UNAIDS adalah Afrika Selatan, Botswana, Ethiopia, Kenya, Lesotho, Malawi, Mozambik, Namibia, Rwanda, Swaziland, Uganda, Tanzania, Zambia dan Zimbabwe.
Sidibe mengatakan, pengalamannya bekerja bersama masyarakat Luo di Kenya telah membuatnya yakin bahwa kaum lelaki akan berkhitan secara sukarela begitu mereka memahami dampaknya.
“Sewaktu di Kenya saya mendatangi wilayah Luo, di mana mereka menolak mentah-mentah khitan pada lelaki, karena selama ratusan tahun mereka tidak pernah melakukannya. Sewaktu kami berusaha mengajak para sesepuh dan mengerahkannya, perubahannya menakjubkan. Orang-orang yang semula menolak khitan, sekarang malah memintanya, dan pihak yang berwenang bahkan tidak tahu bagaimana mengelolanya,” paparnya.
Sidibe mengatakan kunci lain bagi kesuksesan kampanye berkelanjutan untuk memberantas AIDS adalah membujuk pemerintah negara-negara Afrika agar mengambil peran utama, bukannya bergantung pada dana dari donatur-donatur seperti PBB dan Amerika Serikat.
“Harapan saya adalah dapat melibatkan pemimpin Afrika dan membuat mereka memahami bahwa kita tidak dapat membiarkan orang-orang yang dirawat seumur hidup bergantung pada sumberdaya dari luar. Penting diingat bahwa tanggungjawab merekalah untuk mencari dana di dalam negeri dan berusaha berinovasi dalam hal pembiayaan di benua ini,” katanya.
Koordinator Global AIDS Amerika, Eric Goosby mengatakan bahwa dalam era anggaran yang ketat sekarang ini, negara-negara donor akan menuntut keterlibatan lokal yang lebih besar.
Goosby, Sidibe dan mantan presiden Botswana, Festus Mogae, termasuk di antara pejabat tinggi yang menghadiri ICASA, Konferensi Internasional mengenai AIDS dan Penularan Penyakit melalui Hubungan Seksual di Afrika.
Pertemuan selama lima hari di Addis Ababa itu menarik sebagian pakar terkemuka dunia, para pejabat dan aktivis, untuk membahas tren dan temuan-temuan ilmiah terbaru dalam perang melawan AIDS. (voa/agg)
VOA (voice of America)
Jumat, 13 Januari 2012
liburan Juni-Juli 2011 yg luar biasa
Mulai tahun 2011 rumah sunat al ikhwah menerapkan metode bius hipnosis anestesi, metode ini memberikan kenyamanan yg maksimal pada pasien sunat, karena sesuatu yg sangat di takuti oleh sebagian pasien sunat yaitu proses bius "suntik" bisa di atasi dengan tehnik ini.pasien benar2 terbius dengan sugesti positif sehingga proses sunat berjalan dengan sangat nyaman. Sebagai implikasi, pasien makin banyak bertambah, bulan juni-juli 2011 sebagai puncaknya....dari pertama libur sekolah mulai sampai selesai pasien benar2 full....setiap hari full...sampai nolak2 pasien karena jadwal penuh...dalam 1 bulan libur rumah sunat telah menyunat 700 pasien pribadi dan 350 pasien sunatan masal...jadi total yg sudah di sunat utk liburan Juni-Juli 2011 adalah 1050 pasien....tentunya merupakan sesuatu yg fantastik bagi kami sebagai rumah sunat di Bali, yg mana minoritas umat islam. Akan tetapi memang pasien kami tidak melulu beragama islam, 40 persen pasien kami adalah non islam, hal ini merupakan bukti bahwa sunat sudah tidak di dominasi oleh umat islam saja, tetapi utk kesehatan dan kebersihan banyak yg sudah sadar akan pentingnya sunat. Semoga kami bisa semakin baik ke depan dalam penanganan pasien.
By dr chalwan
By dr chalwan
Jumat, 04 Februari 2011
Layanan Khitan dengan Hipnoanestesi
untuk saat ini ada layanan terbaru metode khitan di RSAI yaitu khitan dengan tehnik anestesi hipnotis di kombinasikan dengan bius secara medis yg juga tidak sakit....hal tersebut memberikan kenyamanan yg lebih untuk pasien...tehnik anestesi yg menyakitkan sekarang sudah kuno dan tidak di pakai di RSAI...anak benar2 merasa sangat nyaman, tenang, relax, sehingga proses sunat berlangsung dengan efektif....bahkan anak yang di sunat di RSAI merasa tidak di injeksi atau tidak merasa apa2 selama proses sunat...
untuk saat ini tehnik seperti itu masih sangat jarang di praktekkan di indonesia...semoga perkembangan terbaru ini memberikan manfaat lebih untuk masyarakat....
untuk saat ini tehnik seperti itu masih sangat jarang di praktekkan di indonesia...semoga perkembangan terbaru ini memberikan manfaat lebih untuk masyarakat....
Label:
anestesi,
hipnotis,
sunat,
tanpa rasa sakit
Minggu, 16 Mei 2010
Diam-diam Terpidana Mati Bali Nine Disunat
VIVAnews - Terpidana mati kasus penyelundupan narkotika asal Australia, Scott Rush membuat heboh Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan, Bali.
Secara sembunyi-sembunyi, Rush menjalani ritual sunat. Menurut pejabat Lapas Kerobokan, anggota komplotan Bali Nine itu disunat jumat lalu di area tahanan muslim.
Dokter dan penjaga penjara tak mengetahui hal itu, hingga akhir pekan lalu. Merekka marah karena proses sunat itu melibatkan seseorang yang tidak punya kewenangan untuk menyunat.
Staf penjara telah menanyai motif Rush melakukan sunat -- dan menanyakan apakah dia telah masuk Islam. Sebab, Rush diketahui beragama Katolik dan berasal dari keluarga yang taat.
Rush bahkan pergi menghadiri misa di dalam lingkungan penjara minggu lalu.
Menurut kepala pendidikan dan rehabilitasi narapidana, Anang, Rush mengaku saat ini dia sedang mempelajari Islam.
"Jawabannya membingungkan," kata Anang, seperti dimuat laman Perth Now, Selasa 11 Mei 2010.
Sementara, dokter Lapas Kerobokan, Agung Hartawan mengaku bersyukur, sunat yang dilakukan Rush tidak membahayakan pria asal Australia itu, pendarahan juga tak terjadi di bekas sunatnya.
Hartawan juga sempat menanyakan apakah Rush sudah berpindah agama ke Islam. Jawabnya, "saya sedang mempelajari Islam," kata Hartawan, menirukan perkataan Rush.
Ketika ditanya lebih lanjut apakah orang tuanya mengetahui Rush telah disunat, dia hanya menjawab, "Ini adalah hak saya. Saya hanya ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam. Saya ingin mempelajari Islam," kata Rush.
Bersama dua anggota komplotan Bali Nine lainnya, Andrew Chan, Myuran Sukumaran sedang menunggu eksekusi mati. Namun, kejaksaan masih menunggu keluarnya fatwa hukuman mati dari Mahkamah Agung.
sesungguhnya yang melakukan sunat terhadap scott bukanlah orang yang tidak berkompeten untuk menyunat...yang melakukan adalah dr chalwan yg sudah lama sekali bergelut khusus di bidang sunat....hanya saja saat mengantar dr chalwan ke penjara untuk melakukan sunat ada beberapa orang pengantar yg memang bukan medis atau paramedis, mereka adalah ustadz...dan scott rush sudah masuk islam seminggu sebelum di sunat...para petugas penjara termasuk dokter yg bertugas di sana mengira mereka yg menyunat...padahal mereka hanya mengantar saja....
semoga info ini bisa menjelaskan dan meluruskan berita yang ada....
Secara sembunyi-sembunyi, Rush menjalani ritual sunat. Menurut pejabat Lapas Kerobokan, anggota komplotan Bali Nine itu disunat jumat lalu di area tahanan muslim.
Dokter dan penjaga penjara tak mengetahui hal itu, hingga akhir pekan lalu. Merekka marah karena proses sunat itu melibatkan seseorang yang tidak punya kewenangan untuk menyunat.
Staf penjara telah menanyai motif Rush melakukan sunat -- dan menanyakan apakah dia telah masuk Islam. Sebab, Rush diketahui beragama Katolik dan berasal dari keluarga yang taat.
Rush bahkan pergi menghadiri misa di dalam lingkungan penjara minggu lalu.
Menurut kepala pendidikan dan rehabilitasi narapidana, Anang, Rush mengaku saat ini dia sedang mempelajari Islam.
"Jawabannya membingungkan," kata Anang, seperti dimuat laman Perth Now, Selasa 11 Mei 2010.
Sementara, dokter Lapas Kerobokan, Agung Hartawan mengaku bersyukur, sunat yang dilakukan Rush tidak membahayakan pria asal Australia itu, pendarahan juga tak terjadi di bekas sunatnya.
Hartawan juga sempat menanyakan apakah Rush sudah berpindah agama ke Islam. Jawabnya, "saya sedang mempelajari Islam," kata Hartawan, menirukan perkataan Rush.
Ketika ditanya lebih lanjut apakah orang tuanya mengetahui Rush telah disunat, dia hanya menjawab, "Ini adalah hak saya. Saya hanya ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam. Saya ingin mempelajari Islam," kata Rush.
Bersama dua anggota komplotan Bali Nine lainnya, Andrew Chan, Myuran Sukumaran sedang menunggu eksekusi mati. Namun, kejaksaan masih menunggu keluarnya fatwa hukuman mati dari Mahkamah Agung.
sesungguhnya yang melakukan sunat terhadap scott bukanlah orang yang tidak berkompeten untuk menyunat...yang melakukan adalah dr chalwan yg sudah lama sekali bergelut khusus di bidang sunat....hanya saja saat mengantar dr chalwan ke penjara untuk melakukan sunat ada beberapa orang pengantar yg memang bukan medis atau paramedis, mereka adalah ustadz...dan scott rush sudah masuk islam seminggu sebelum di sunat...para petugas penjara termasuk dokter yg bertugas di sana mengira mereka yg menyunat...padahal mereka hanya mengantar saja....
semoga info ini bisa menjelaskan dan meluruskan berita yang ada....
Bertambah Lagi Manfaat Sunat Laki-laki
Bertambah Lagi Manfaat Sunat Laki-laki
Manfaat sunat pada pria makin bertambah lagi. Selain bisa mengurangi risiko tertular HIV melalui hubungan seks heteroseksual, pria yang disunat juga jauh dari risiko terkena virus human pappiloma virus (HPV) yang menjadi penyebab penyakit kelamin.
HPV adalah virus yang sangat umum dan terdiri lebih dari 100 strain yang sebagian besar menyebabkan kutil kelamin (genital warts). Infeksi beberapa jenis HPV yang menetap dapat menyebabkan kanker.
HPV juga adalah penyebab utama kanker serviks pada perempuan dan juga kanker penis serta kanker dubur. Sedangkan sistem kekebalan tubuh yang baik dapat membersihkan infeksi ini pada beberapa orang.
"Orang yang terinfeksi HIV seringkali juga menderita infeksi HPV dan karena sistem kekebalan tubuhnya rendah menjadi sangat rentan mengembangkan HPV yang terkait dengan kanker," ujar Prof Dr Ronald H. Gray dari Johns Hopkins University School of Public Health di Baltimore, seperti dikutip dari Reuters, Senin (19/4/2010).
Studi terkini yang dilaporkan dalam Journal of Infectious Diseases, menemukan bahwa sunat dapat menurunkan tingkat infeksi HPV penyebab kanker sebesar 33 persen pada laki-laki yang HIV-negatif dan sebesar 23 persen pada laki-laki yang HIV-positif. Hasil ini setelah masing-masing dibandingkan dengan laki-laki yang tidak disunat.
Penelitian ini melibatkan 210 laki-laki yang HIV-positif dan 840 laki-laki yang HIV-negatif dengan usia antara 15-49 tahun. Selain dapat mengurangi risiko infeksi HPV, sunat juga bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang membuat seseorang terhindar dari infeksi.
Info: www.sehat.tk
Manfaat sunat pada pria makin bertambah lagi. Selain bisa mengurangi risiko tertular HIV melalui hubungan seks heteroseksual, pria yang disunat juga jauh dari risiko terkena virus human pappiloma virus (HPV) yang menjadi penyebab penyakit kelamin.
HPV adalah virus yang sangat umum dan terdiri lebih dari 100 strain yang sebagian besar menyebabkan kutil kelamin (genital warts). Infeksi beberapa jenis HPV yang menetap dapat menyebabkan kanker.
HPV juga adalah penyebab utama kanker serviks pada perempuan dan juga kanker penis serta kanker dubur. Sedangkan sistem kekebalan tubuh yang baik dapat membersihkan infeksi ini pada beberapa orang.
"Orang yang terinfeksi HIV seringkali juga menderita infeksi HPV dan karena sistem kekebalan tubuhnya rendah menjadi sangat rentan mengembangkan HPV yang terkait dengan kanker," ujar Prof Dr Ronald H. Gray dari Johns Hopkins University School of Public Health di Baltimore, seperti dikutip dari Reuters, Senin (19/4/2010).
Studi terkini yang dilaporkan dalam Journal of Infectious Diseases, menemukan bahwa sunat dapat menurunkan tingkat infeksi HPV penyebab kanker sebesar 33 persen pada laki-laki yang HIV-negatif dan sebesar 23 persen pada laki-laki yang HIV-positif. Hasil ini setelah masing-masing dibandingkan dengan laki-laki yang tidak disunat.
Penelitian ini melibatkan 210 laki-laki yang HIV-positif dan 840 laki-laki yang HIV-negatif dengan usia antara 15-49 tahun. Selain dapat mengurangi risiko infeksi HPV, sunat juga bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang membuat seseorang terhindar dari infeksi.
Info: www.sehat.tk
Sabtu, 30 Januari 2010
Sunat Kurangi Resiko Penyakit Seks Menular
Sunat Kurangi Resiko Penyakit Seks Menular
Lihat Gambar
BERI KOMENTAR CETAK ARTIKEL INI DAFTAR MAILING LIST KIRIM KE TEMAN KOMENTAR FANS HUGH JACKMAN
Rabu, 08 November 2006 11:11
KapanLagi.com - Pria yang dikhitan terbukti jarang sekali tertular infeksi yang menular melalui hubungan seksual dibanding mereka yang belum disunat.
Dalam jurnal Pediatrics terbitan November 2006, khitan bisa mengurangi resiko tertular dan menyebarkan infeksi sampai sekitar 50 persen, yang menyarankan manfaat besar mengenai sunat bagi bayi yang baru lahir.
Studi saat ini hanya satu dari sekian studi untuk mengupas lebih jauh tentang topik kontroversial ini. Meskipun berbagai studi mendapati bahwa sunat bisa mengurangi tingkat HIV (virus penyebab AIDS), sipilis, dan borok pada alat kelamin, hasil tersebut bercampur dengan penyakit lain yang menular melalui hubungan seks (STD).
Academy of Pediatrics, Amerika menyebut bukti tersebut "rumit dan bertentangan", karena itu mereka menyimpulkan bahwa, untuk saat ini, bukti tersebut tak memadai untuk mendukung khitan rutin pada bayi yang baru lahir.
Seperti dikutip dari Reuters, Selasa (07/11/06), para peneliti menganalisis data yang dikumpulkan Christchurch Health and Development Study, yang mencakup kelompok kelahiran anak dari Selandia Baru.
Dalam studi ini pria dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan status sunat sebelum usia 15 tahun dan kelompok yang mengalami infeksi menular melalui hubungan seks antara usia 18 dan 25 tahun yang ditentukan melalui sebuah kuisioner.
Sebanyak 356 anak laki yang tak dikhitan memiliki resiko 2,66 kali serangan infeksi yang menular melalui hubungan seks dibandingkan dengan 154 anak laki yang disunat, jelas pemimpin peneliti Dr. David M. Fergusson dan rekan dari Christchurch School of Medicine and Health Sciences.
Selain itu, sebagian besar resiko yang berkurang tersebut tak berubah setelah diperhitungkannya faktor pemicu yang potensial, seperti jumlah pasangan seks dan hubungan seks tanpa pelindung.
Para ilmuwan itu memperkirakan bahwa kalau saja khitan rutin pada bayi yang baru dilahirkan telah dilembagakan, angka infeksi yang menular melalui hubungan seks dalam kelompok saat ini tersebut mungkin telah berkurang setidaknya 48 persen.
Analisis tersebut memperlihatkan manfaat sunat dalam mengurangi resiko infeksi yang menyerang melalui hubungan seks mungkin sangat banyak.
"Masalah kesehatan masyarakat yang diangkat dalam temuan ini jelas melibatkan pertimbangan manfaat jangka panjang bagi khitan rutin pada bayi yang baru dilahirkan dalam mengurangi resiko infeksi di dalam masyarakat, berbanding perkiraan biaya prosedur tersebut," tambah mereka. (rtr/ant/rit)
Lihat Gambar
BERI KOMENTAR CETAK ARTIKEL INI DAFTAR MAILING LIST KIRIM KE TEMAN KOMENTAR FANS HUGH JACKMAN
Rabu, 08 November 2006 11:11
KapanLagi.com - Pria yang dikhitan terbukti jarang sekali tertular infeksi yang menular melalui hubungan seksual dibanding mereka yang belum disunat.
Dalam jurnal Pediatrics terbitan November 2006, khitan bisa mengurangi resiko tertular dan menyebarkan infeksi sampai sekitar 50 persen, yang menyarankan manfaat besar mengenai sunat bagi bayi yang baru lahir.
Studi saat ini hanya satu dari sekian studi untuk mengupas lebih jauh tentang topik kontroversial ini. Meskipun berbagai studi mendapati bahwa sunat bisa mengurangi tingkat HIV (virus penyebab AIDS), sipilis, dan borok pada alat kelamin, hasil tersebut bercampur dengan penyakit lain yang menular melalui hubungan seks (STD).
Academy of Pediatrics, Amerika menyebut bukti tersebut "rumit dan bertentangan", karena itu mereka menyimpulkan bahwa, untuk saat ini, bukti tersebut tak memadai untuk mendukung khitan rutin pada bayi yang baru lahir.
Seperti dikutip dari Reuters, Selasa (07/11/06), para peneliti menganalisis data yang dikumpulkan Christchurch Health and Development Study, yang mencakup kelompok kelahiran anak dari Selandia Baru.
Dalam studi ini pria dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan status sunat sebelum usia 15 tahun dan kelompok yang mengalami infeksi menular melalui hubungan seks antara usia 18 dan 25 tahun yang ditentukan melalui sebuah kuisioner.
Sebanyak 356 anak laki yang tak dikhitan memiliki resiko 2,66 kali serangan infeksi yang menular melalui hubungan seks dibandingkan dengan 154 anak laki yang disunat, jelas pemimpin peneliti Dr. David M. Fergusson dan rekan dari Christchurch School of Medicine and Health Sciences.
Selain itu, sebagian besar resiko yang berkurang tersebut tak berubah setelah diperhitungkannya faktor pemicu yang potensial, seperti jumlah pasangan seks dan hubungan seks tanpa pelindung.
Para ilmuwan itu memperkirakan bahwa kalau saja khitan rutin pada bayi yang baru dilahirkan telah dilembagakan, angka infeksi yang menular melalui hubungan seks dalam kelompok saat ini tersebut mungkin telah berkurang setidaknya 48 persen.
Analisis tersebut memperlihatkan manfaat sunat dalam mengurangi resiko infeksi yang menyerang melalui hubungan seks mungkin sangat banyak.
"Masalah kesehatan masyarakat yang diangkat dalam temuan ini jelas melibatkan pertimbangan manfaat jangka panjang bagi khitan rutin pada bayi yang baru dilahirkan dalam mengurangi resiko infeksi di dalam masyarakat, berbanding perkiraan biaya prosedur tersebut," tambah mereka. (rtr/ant/rit)
Langganan:
Postingan (Atom)