Selamat datang di RUMAH SUNAT AL IKHWAH BALI

"Jadikan hidup anda lebih bersih dan sehat"

Rumah Sunat Al Ikhwah Bali (circumcision specialistic in Denpasar Bali dengan hipnoanestesi)

Rumah Sunat Al Ikhwah berdiri pada bulan juli 2006 dan sampai sekarang masih berkhidmad di dalam pelayanan jasa khitan untuk wilayah Bali dan sekitarnya, bahkan pasien yang datang sampai dari makasar, irian jaya, kupang, lombok, jogjakarta, banyuwangi, jember, jakarta, medan dan surabaya. usia pasien yang di layani di RSAI sangat bervariatif, dari umur 0 tahun sampai 90 tahun sering di tangani, tentunya dalam masalah khitan ini tidak ada kata terlambat, umur berapapun bisa dan tidak ada permasalahan. dokter yang bertugas di RSAI adalah dokter yang khusus menangani khitan atau sunat (spesialistik di bidang sunat/khitan), sehingga dari segi pengalaman dan kualitas sudah tidak di ragukan lagi. Yang terbaru adalah kombinasi antara hipnosis sederhana dan anestesi dengan minimal rasa sakit "HIPNOANESTESI", dengan metode bius ini sunat menjadi semakin nyaman dan benar2 bisa tanpa rasa sakit atau minimal sekali rasa sakit (pada anak-anak yang sudah siap sunat secara psikologis). kedepan RSAI akan senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan dan mengembangkan berbagai metode yang lebih canggih, cepat dan tepat untuk khitan atau sunat.

Arsip Blog

Sabtu, 14 Desember 2019

PENGARUH MEROKOK TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA



                Berbicara tentang merokok tidak akan pernah ada habisnya. Rokok merupakan komoditas yang sangat tinggi peminatnya, baik dari remaja dewasa tua sampai anak-anak. Fenomena saat ini benar-benar mengkhawatirkan, banyak kita lihat anak-anak usia belasan yang masih duduk di bangku SMP sudah merokok, mereka dengan asiknya menghisap sepuntung rokok dengan memakai seragam sekolah di warung pinggir jalan dekat sekolah. Saat ini begitu sangat dini pengaruh rokok ini terhadap generasi penerus bangsa, hal ini tidak lepas dari regulasi pemerintah berkaitan dengan rokok itu sendiri yang begitu longgar pada masyarakat, dimana rokok merupakan salah satu produk penyumbang cukai paling tinggi di negara kita.
                Berhenti merokok merupakan aktivitas yang sangat sulit, apalagi semakin banyak kuantitas rokok yang di konsumsi atau di hisap setiap harinya maka akan semakin tinggi tingkat kecanduan terhadap rokok itu sendiri. Nikotin yang sudah menjadi candu dalam tubuh akan selalu meminta untuk di penuhi dan di penuhi lagi, sehingga muncul gejala-gejala “sakau” apabila tidak merokok. Oleh karena itu merupakan prestasi luar biasa ketika seorang perokok berat akhirnya bisa berhenti dan terbebas dari candu rokok.
Pada kesempatan ini, kami dari Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali ingin mengulas tentang pengaruh merokok terhadap penyembuhan luka pada umumnya dan pada luka sunat atau khitan pada khususnya. Kami tidak membahas kontroversi bagi yang pro terhadap merokok dan yang kontra terhadap merokok, semua memiliki pilihan masing-masing dan segala resiko yang akan di hadapi juga akan di rasakan oleh masing-masing juga.
Pertama-tama mari kita ulas apa yang terjadi pada pernafasan kita sampai oksigen yang kita hirup dapat di manfaatkan oleh tubuh. Udara yang kita hirup masuk melalui saluran pernafasan menuju ke paru-paru, dimana udara ini mengandung oksigen. Di paru-paru oksigen masuk ke dalam kapiler darah dan berikatan dengan hemoglobin yang ada di dalam sel darah merah untuk di bawa ke seluruh tubuh. Di level jaringan tubuh, oksigen ini akan berproses secara kimiawi menghasilkan energi yang di butuhkan oleh jaringan. Energi ini di pakai untuk segala aktifitas jaringan tubuh, baik regenerasi sel, pemeliharaan sel, perbaikan sel yang rusak, dan masih banyak proses di dalam jaringan. Saat terjadi proses penyembuhan luka, maka daerah jaringan yang mengalami luka akan membutuhkan energi ekstra untuk itu, akan membutuhkan oksigen yang lebih, oleh karena itu dalam kondisi normal , seseorang yang luka, akan membutuhkan tingkat oksigen yang lebih tinggi di banding dengan orang normal tanpa luka.
Sekarang mari kita lihat pada perokok. Saat merokok, udara yang di hirup tidak hanya mengandung oksigen, akan tetapi terdapat karbon monoksida yang masuk ke dalam saluran napas dan sampai ke paru-paru. Seharusnya , hemoglobin akan berikatan dengan oksigen dan di bawa ke seluruh jaringan tubuh, akan tetapi, karena ada karbon monoksida , maka sebagian dari hemoglobin akan berikatan dengan karbon monoksida dan ikut di bawa ke seluruh tubuh. Ikatan karbon monoksida dengan hemoglobin jauh lebih kuat daripada ikatan oksigen dengan hemoglobin, sehingga ketika ada zat co dan oksigen, maka hemoglobin lebih memilih berikatan dengan co. Tentunya dengan banyak hemoglobin yang berikatan dengan co, maka akan memberikan kompensasi tubuh agar kebutuhan oksigen tetep terpenuhi, salah satunya dengan kita bernafas lebih dalam dan lebih tinggi frekuensinya. Poinnya di sini adalah, pemenuhan tubuh terhadap kebutuhan peningkatan oksigen pada proses penyembuhan luka tidak akan bisa optimal dan terpenuhi, sehingga secara otomatis proses penyembuhan luka akan berlangsung lebih lama dari semestinya. Kadar karbon monoksida sendiri secara teoritis akan menghilang sepenuhnya dalam darah setelah 24 sampai 48 jam setelah paparan merokok terakhir, padahal kita lihat seorang perokok, kadang belum ada 1 jam sudah merokok lagi, al hasil, kadar co dalam darahnya akan selalu tinggi, dan penggunaan oksigen oleh tubuh akan sangat kurang dan tidak efektif.
Dari penjelasan sederhana di atas, maka jika tetap merokok, maka proses penyembuhan luka akan menjadi lebih lambat, dan kami menganjurkan kepada pasien sunat atau khitan dewasa supaya berhenti merokok saat proses penyembuhan luka, atau kalau memang sangat sulit sekali, minimal bisa berusaha mengurangi kuantitas merokoknya. Hal ini juga berlaku bagi orang tua perokok yang anaknya sedang menjalani proses penyembuhan luka pasca sunat, sebaiknya jauh-jauh ketika merokok, walau sebenarnya etika merokok adalah berusaha sejauh mungkin dari orang-orang yang tidak merokok, sehingga tidak merugikan orang yang tidak merokok. Mengingat begitu banyak dampak negatif yang di rasakan oleh perokok pasif, maka kesadaran akan etika merokok itu sendiri harus di tanamkan pada para perokok mania.
Semoga ulasan di atas bisa memberikan informasi dan kita menjadi lebih bijaksana dalam mensikapi rokok dan belajar lebih banyak lagi tentang baik dan buruknya merokok , dan bisa memberikan yang terbaik bagi tubuh kita.