Selamat datang di RUMAH SUNAT AL IKHWAH BALI
"Jadikan hidup anda lebih bersih dan sehat"
Rumah Sunat Al Ikhwah Bali (circumcision specialistic in Denpasar Bali dengan hipnoanestesi)
Rumah Sunat Al Ikhwah berdiri pada bulan juli 2006 dan sampai sekarang masih berkhidmad di dalam pelayanan jasa khitan untuk wilayah Bali dan sekitarnya, bahkan pasien yang datang sampai dari makasar, irian jaya, kupang, lombok, jogjakarta, banyuwangi, jember, jakarta, medan dan surabaya. usia pasien yang di layani di RSAI sangat bervariatif, dari umur 0 tahun sampai 90 tahun sering di tangani, tentunya dalam masalah khitan ini tidak ada kata terlambat, umur berapapun bisa dan tidak ada permasalahan. dokter yang bertugas di RSAI adalah dokter yang khusus menangani khitan atau sunat (spesialistik di bidang sunat/khitan), sehingga dari segi pengalaman dan kualitas sudah tidak di ragukan lagi. Yang terbaru adalah kombinasi antara hipnosis sederhana dan anestesi dengan minimal rasa sakit "HIPNOANESTESI", dengan metode bius ini sunat menjadi semakin nyaman dan benar2 bisa tanpa rasa sakit atau minimal sekali rasa sakit (pada anak-anak yang sudah siap sunat secara psikologis). kedepan RSAI akan senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan dan mengembangkan berbagai metode yang lebih canggih, cepat dan tepat untuk khitan atau sunat.
Selasa, 14 Mei 2013
Manfaat Khitan Bagi Kesehatan Pria
Seluruh pria beragama muslim tentu memiliki keharusan untuk melakukan khitan, bahkan di agama lain pun diwajibkan untuk melakukan khitan untuk alasan kesehatan. Definisi khitan secara medis adalah memotong prepusium, yaitu kulit yang menutupi glans atau kepala penis. Dalam prosesnya, khitan merupakan tindakan pembuangan kulup penis dengan tujuan menjalankan syariat agama ataupun indikasi medis.
Khitan disebut juga dengan sirkumsisi yang berarti sayatan melingkar, yang dianalogikan pada pemotongan prepusium yang melingkar terhadap batang penis. Jurnal kesehatan di Amerika menyebutkan bahwa khitan atau sirkumsisi (circumcision) adalah tindakan memotong atau menghilangkan sebagian ataupun seluruh kulit penutup depan dari penis.
Menurut ahli kesehatan, khitan memiliki manfaat bagi kesehatan karena membuang anggota tubuh yang menjadi tempat persembunyian kotoran. Beberapa penelitian medis mengungkapkan bahwa penderita penyakit kelamin lebih banyak berasal dari kalangan yang tidak dikhitan. Proses ini dapat menghindari timbulnya berbagai penyakit, di antaranya adalah fimosis, parafimosis, kandidiasis, serta tumor ganas pada penis.
Para ahli kesehatan di Amerika sejak tahun 1975 menyatakan bahwa secara medis tidak ada keharusan bagi bayi laki-laki yang baru lahir untuk dikhitan, kecuali bila ada indikasi seperti menderita fimosis atau jika anak berusia di bawah lima tahun menderita infeksi saluran kemih yang berulang.
Menurut penelitian, pria yang dikhitan terbukti jarang tertular infeksi yang menular melalui hubungan seksual dibandingkan mereka yang belum dikhitan. Penelitian dari Selandia Baru ini mengungkapkan bahwa pria yang tidak dikhitan memiliki risiko 2,66 kali terserang infeksi yang menular melalui hubungan seksual dibandingkan dengan pria yang tidak dikhitan.
Berdasarkan data WHO pada tahun 2007 menyebutkan, diperkirakan 30 persen pria di seluruh dunia telah di-khitan. Khitan terbukti menurunkan risiko infeksi saluran kemih. Suatu pertemuan internasional diadakan di Swiss yang memutuskan dan merekomendasikan khitan pada pria sebagai upaya pencegahan HIV/AIDS hingga sebesar 60 persen.
Secara medis tidak ada batasan pada umur berapa pria boleh di-khitan, karena usia khitan dipengaruhi pula oleh adat istiadat setempat. Di Arab Saudi anak dikhitan pada usia 3-7 tahun, di Mesir antara 5-6 tahun, di India antara 5-9 tahun, dan di Iran saat umur 4 tahun. Untuk di Indonesia, suku Jawa lazimnya mengkhitan anak pada usia sekitar 15 tahun, sedangkan suku Sunda biasanya mengkhitan anak pada usia 3-5 tahun.
Indikasi khitan dibagi menjadi dua, yaitu indikasi agama dan medis. Seringkali orangtua menginginkan anaknya dikhitan untuk menjalankan syariat agama. Khitan juga direkomendasikan kepada orang yang mengalami infeksi berulang pada penis yang diakibatkan oleh penumpukan kotoran, atau disebut dengan smegma.
Beberapa indikasi medis untuk khitan yang paling umum adalah fimosis dan parafimosis. Fimosis adalah suatu keadaan ketika prepusium, atau kulit kulup penis, tidak dapat ditarik ke belakang. Keadaan ini biasanya tidak terasa nyeri namun dapat mengakibatkan sumbatan keluarnya urin dengan penggelembungan prepusium dan dapat mengakibatkan peradangan yang kronis.
Sedangkan parafimosis adalah suatu keadaan ketika prepusium tertarik dan tertinggal di belakang kepala penis. Prepusium ini akan menjepit dan menyebabkan pembengkakan pembuluh darah dan terasa nyeri.
Selain menjalankan syariat agama, khitan juga terbukti baik untuk kesehatan selama dilakukan oleh ahli khitan atau dokter dengan peralatan yang higienis.
(andy@oktomagazine.com)
Minggu, 15 Januari 2012
Sunat Mencegah Kanker Penis
Liputan6.com, Sydney: Banyak penelitian tentang manfaat dari sunat. Selain untuk mencegah risiko penularan penyakit, ternyata khitan juga dapat mencegah kanker penis. Seperti ditulis menshealth.com, peneliti dari University of Sydney, Brian Morris, mengungkapkan, risiko kanker penis pada laki-laki yang tidak disunat adalah satu banding seribu. "Kanker penis kerap ditemui di negara-negara yang penduduk laki-lakinya jarang disunat," ujar Morris, baru-baru ini.
Menurut Morris, kulit yang ketat di bagian depan (tidak disunat), membuat alat kemaluan laki-laki sulit dibersihkan. "Jika menumpuk, kotoran yang menempel di bagian itu akan memicu radang yang jadi salah satu faktor pemicu kanker penis," katanya.
Selain itu, bisa juga menimbulkan infeksi human pappoloma virus (HPV), sejenis virus yang ditularkan melalui hubungan kelamin. Bisa menjadi pemicu kanker rahim bagi perempuan. Itulah sebabnya, Morris menyebut sunat lebih baik buat pria.
Bila ada yang enggan untuk disunat, Morris menyarankan, ada baiknya selalu menjaga kebersihan penis. Di saat mandi, mungkin jadi momen yang tepat untuk membersihkan penis, terutama di bagian yang tertutup kulit.(ULF)
Menurut Morris, kulit yang ketat di bagian depan (tidak disunat), membuat alat kemaluan laki-laki sulit dibersihkan. "Jika menumpuk, kotoran yang menempel di bagian itu akan memicu radang yang jadi salah satu faktor pemicu kanker penis," katanya.
Selain itu, bisa juga menimbulkan infeksi human pappoloma virus (HPV), sejenis virus yang ditularkan melalui hubungan kelamin. Bisa menjadi pemicu kanker rahim bagi perempuan. Itulah sebabnya, Morris menyebut sunat lebih baik buat pria.
Bila ada yang enggan untuk disunat, Morris menyarankan, ada baiknya selalu menjaga kebersihan penis. Di saat mandi, mungkin jadi momen yang tepat untuk membersihkan penis, terutama di bagian yang tertutup kulit.(ULF)
Label:
cegah kanker penis,
laki-laki,
sunat
Sabtu, 14 Januari 2012
Setelah Disunat, Pasien Herpes Selama 20 Tahun Jadi Sembuh
Senin, 31 Oktober 2011 16:29
JAYAPURA—Ketua Pelaksana Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua drh. Constant Karma menegaskan, sunat atau sirkumsisi sebagai upaya pencegahan virus HIV dan AIDS, ternyata mampu pula mengobati penyakit herpes atau gejala melepuh kulit pada penis yang diderita seorang dokter selama 20 tahun terakhir ini. “Dokter ini menyampaikan kepada saya via SMS bahwa setelah mengikuti penjelasan sunat di Jayapura beberapa waktu lalu dia melakukan sunat, ternyata setelah itu dia tak lagi menderita penyakit herpes pada kemaluannya yang dialaminya selama 20 tahun,” ujar Constant Karma yang juga menjabat Sekda Provinsi Papua usai pertemuan bersama Tim Komisi VIII DPR RI dan stakeholder (pemangku kepentingan) membahas masalah sosial dan keagamaan di Papua di Aula Sasana Karya, Kantor Gubernur Papua, Jayapura, Senin (31/10). Namun demikian, Sekda Provinsi Papua tak menjelaskan secara detail identitas dokter yang sembuh dari penyakit herpes tersebut. Tapi SMS dari dokter masih disimpannya. Sebagaimana pengakuan dokter tersebut, katanya, selama 20 tahun menderita penyakit herpes telah melakukan pelbagai pengobatan tapi tak pernah sembuh. Tapi ketika dia sunat karena mendengar penjelasan dari KPA Provinsi Papua bahwa sunat atau sirkumsisi mampu mencegah virus HIV dan AIDS ternyata penyakit herpes hilang .
Menurutnya, selama 3 tahun pihaknya melakukan dialog dan sosialisasi tentang sunat di Jayapura, Merauke, Biak dan lain lain ia belum pernah mendapatkan protes atau bantahan dari masyarakat. (mdc/don/l03)
Bintangpapua.com
JAYAPURA—Ketua Pelaksana Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua drh. Constant Karma menegaskan, sunat atau sirkumsisi sebagai upaya pencegahan virus HIV dan AIDS, ternyata mampu pula mengobati penyakit herpes atau gejala melepuh kulit pada penis yang diderita seorang dokter selama 20 tahun terakhir ini. “Dokter ini menyampaikan kepada saya via SMS bahwa setelah mengikuti penjelasan sunat di Jayapura beberapa waktu lalu dia melakukan sunat, ternyata setelah itu dia tak lagi menderita penyakit herpes pada kemaluannya yang dialaminya selama 20 tahun,” ujar Constant Karma yang juga menjabat Sekda Provinsi Papua usai pertemuan bersama Tim Komisi VIII DPR RI dan stakeholder (pemangku kepentingan) membahas masalah sosial dan keagamaan di Papua di Aula Sasana Karya, Kantor Gubernur Papua, Jayapura, Senin (31/10). Namun demikian, Sekda Provinsi Papua tak menjelaskan secara detail identitas dokter yang sembuh dari penyakit herpes tersebut. Tapi SMS dari dokter masih disimpannya. Sebagaimana pengakuan dokter tersebut, katanya, selama 20 tahun menderita penyakit herpes telah melakukan pelbagai pengobatan tapi tak pernah sembuh. Tapi ketika dia sunat karena mendengar penjelasan dari KPA Provinsi Papua bahwa sunat atau sirkumsisi mampu mencegah virus HIV dan AIDS ternyata penyakit herpes hilang .
Menurutnya, selama 3 tahun pihaknya melakukan dialog dan sosialisasi tentang sunat di Jayapura, Merauke, Biak dan lain lain ia belum pernah mendapatkan protes atau bantahan dari masyarakat. (mdc/don/l03)
Bintangpapua.com
PBB Kampanyekan Khitan untuk Kurangi Risiko Penularan HIV
ADDIS ABABA- Organisasi AIDS PBB (UNAIDS) dan Rencana Darurat Presiden Amerika bagi Pemberantasan AIDS (PEPFAR) mengumumkan kampanye berjangka lima tahun untuk membujuk kaum lelaki di 14 negara Afrika agar secara sukarela melakukan khitan. Berbagai penelitian belakangan ini menunjukkan bahwa khitan mengurangi risiko penularan HIV melalui hubungan seks lelaki dan perempuan hingga sekitar 60 persen.
Direktur UNAIDS Michel Sidibe mengatakan, menambahkan khitan pada strategi pencegahan dapat menurunkan kasus penularan secara dramatis.
“Jika ada penurunan 60 persen, dan mengombinasikannya dengan langkah-langkah pencegahan lainnya, kita dapat mulai mengurangi jumlah penularan baru melalui hubungan seksual hingga lebih dari 50 persen.” Ujar Sidibe.
Empat belas negara yang ditarget UNAIDS adalah Afrika Selatan, Botswana, Ethiopia, Kenya, Lesotho, Malawi, Mozambik, Namibia, Rwanda, Swaziland, Uganda, Tanzania, Zambia dan Zimbabwe.
Sidibe mengatakan, pengalamannya bekerja bersama masyarakat Luo di Kenya telah membuatnya yakin bahwa kaum lelaki akan berkhitan secara sukarela begitu mereka memahami dampaknya.
“Sewaktu di Kenya saya mendatangi wilayah Luo, di mana mereka menolak mentah-mentah khitan pada lelaki, karena selama ratusan tahun mereka tidak pernah melakukannya. Sewaktu kami berusaha mengajak para sesepuh dan mengerahkannya, perubahannya menakjubkan. Orang-orang yang semula menolak khitan, sekarang malah memintanya, dan pihak yang berwenang bahkan tidak tahu bagaimana mengelolanya,” paparnya.
Sidibe mengatakan kunci lain bagi kesuksesan kampanye berkelanjutan untuk memberantas AIDS adalah membujuk pemerintah negara-negara Afrika agar mengambil peran utama, bukannya bergantung pada dana dari donatur-donatur seperti PBB dan Amerika Serikat.
“Harapan saya adalah dapat melibatkan pemimpin Afrika dan membuat mereka memahami bahwa kita tidak dapat membiarkan orang-orang yang dirawat seumur hidup bergantung pada sumberdaya dari luar. Penting diingat bahwa tanggungjawab merekalah untuk mencari dana di dalam negeri dan berusaha berinovasi dalam hal pembiayaan di benua ini,” katanya.
Koordinator Global AIDS Amerika, Eric Goosby mengatakan bahwa dalam era anggaran yang ketat sekarang ini, negara-negara donor akan menuntut keterlibatan lokal yang lebih besar.
Goosby, Sidibe dan mantan presiden Botswana, Festus Mogae, termasuk di antara pejabat tinggi yang menghadiri ICASA, Konferensi Internasional mengenai AIDS dan Penularan Penyakit melalui Hubungan Seksual di Afrika.
Pertemuan selama lima hari di Addis Ababa itu menarik sebagian pakar terkemuka dunia, para pejabat dan aktivis, untuk membahas tren dan temuan-temuan ilmiah terbaru dalam perang melawan AIDS. (voa/agg)
VOA (voice of America)
Direktur UNAIDS Michel Sidibe mengatakan, menambahkan khitan pada strategi pencegahan dapat menurunkan kasus penularan secara dramatis.
“Jika ada penurunan 60 persen, dan mengombinasikannya dengan langkah-langkah pencegahan lainnya, kita dapat mulai mengurangi jumlah penularan baru melalui hubungan seksual hingga lebih dari 50 persen.” Ujar Sidibe.
Empat belas negara yang ditarget UNAIDS adalah Afrika Selatan, Botswana, Ethiopia, Kenya, Lesotho, Malawi, Mozambik, Namibia, Rwanda, Swaziland, Uganda, Tanzania, Zambia dan Zimbabwe.
Sidibe mengatakan, pengalamannya bekerja bersama masyarakat Luo di Kenya telah membuatnya yakin bahwa kaum lelaki akan berkhitan secara sukarela begitu mereka memahami dampaknya.
“Sewaktu di Kenya saya mendatangi wilayah Luo, di mana mereka menolak mentah-mentah khitan pada lelaki, karena selama ratusan tahun mereka tidak pernah melakukannya. Sewaktu kami berusaha mengajak para sesepuh dan mengerahkannya, perubahannya menakjubkan. Orang-orang yang semula menolak khitan, sekarang malah memintanya, dan pihak yang berwenang bahkan tidak tahu bagaimana mengelolanya,” paparnya.
Sidibe mengatakan kunci lain bagi kesuksesan kampanye berkelanjutan untuk memberantas AIDS adalah membujuk pemerintah negara-negara Afrika agar mengambil peran utama, bukannya bergantung pada dana dari donatur-donatur seperti PBB dan Amerika Serikat.
“Harapan saya adalah dapat melibatkan pemimpin Afrika dan membuat mereka memahami bahwa kita tidak dapat membiarkan orang-orang yang dirawat seumur hidup bergantung pada sumberdaya dari luar. Penting diingat bahwa tanggungjawab merekalah untuk mencari dana di dalam negeri dan berusaha berinovasi dalam hal pembiayaan di benua ini,” katanya.
Koordinator Global AIDS Amerika, Eric Goosby mengatakan bahwa dalam era anggaran yang ketat sekarang ini, negara-negara donor akan menuntut keterlibatan lokal yang lebih besar.
Goosby, Sidibe dan mantan presiden Botswana, Festus Mogae, termasuk di antara pejabat tinggi yang menghadiri ICASA, Konferensi Internasional mengenai AIDS dan Penularan Penyakit melalui Hubungan Seksual di Afrika.
Pertemuan selama lima hari di Addis Ababa itu menarik sebagian pakar terkemuka dunia, para pejabat dan aktivis, untuk membahas tren dan temuan-temuan ilmiah terbaru dalam perang melawan AIDS. (voa/agg)
VOA (voice of America)
Jumat, 13 Januari 2012
liburan Juni-Juli 2011 yg luar biasa
Mulai tahun 2011 rumah sunat al ikhwah menerapkan metode bius hipnosis anestesi, metode ini memberikan kenyamanan yg maksimal pada pasien sunat, karena sesuatu yg sangat di takuti oleh sebagian pasien sunat yaitu proses bius "suntik" bisa di atasi dengan tehnik ini.pasien benar2 terbius dengan sugesti positif sehingga proses sunat berjalan dengan sangat nyaman. Sebagai implikasi, pasien makin banyak bertambah, bulan juni-juli 2011 sebagai puncaknya....dari pertama libur sekolah mulai sampai selesai pasien benar2 full....setiap hari full...sampai nolak2 pasien karena jadwal penuh...dalam 1 bulan libur rumah sunat telah menyunat 700 pasien pribadi dan 350 pasien sunatan masal...jadi total yg sudah di sunat utk liburan Juni-Juli 2011 adalah 1050 pasien....tentunya merupakan sesuatu yg fantastik bagi kami sebagai rumah sunat di Bali, yg mana minoritas umat islam. Akan tetapi memang pasien kami tidak melulu beragama islam, 40 persen pasien kami adalah non islam, hal ini merupakan bukti bahwa sunat sudah tidak di dominasi oleh umat islam saja, tetapi utk kesehatan dan kebersihan banyak yg sudah sadar akan pentingnya sunat. Semoga kami bisa semakin baik ke depan dalam penanganan pasien.
By dr chalwan
By dr chalwan
Jumat, 04 Februari 2011
Layanan Khitan dengan Hipnoanestesi
untuk saat ini ada layanan terbaru metode khitan di RSAI yaitu khitan dengan tehnik anestesi hipnotis di kombinasikan dengan bius secara medis yg juga tidak sakit....hal tersebut memberikan kenyamanan yg lebih untuk pasien...tehnik anestesi yg menyakitkan sekarang sudah kuno dan tidak di pakai di RSAI...anak benar2 merasa sangat nyaman, tenang, relax, sehingga proses sunat berlangsung dengan efektif....bahkan anak yang di sunat di RSAI merasa tidak di injeksi atau tidak merasa apa2 selama proses sunat...
untuk saat ini tehnik seperti itu masih sangat jarang di praktekkan di indonesia...semoga perkembangan terbaru ini memberikan manfaat lebih untuk masyarakat....
untuk saat ini tehnik seperti itu masih sangat jarang di praktekkan di indonesia...semoga perkembangan terbaru ini memberikan manfaat lebih untuk masyarakat....
Label:
anestesi,
hipnotis,
sunat,
tanpa rasa sakit
Minggu, 16 Mei 2010
Diam-diam Terpidana Mati Bali Nine Disunat
VIVAnews - Terpidana mati kasus penyelundupan narkotika asal Australia, Scott Rush membuat heboh Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan, Bali.
Secara sembunyi-sembunyi, Rush menjalani ritual sunat. Menurut pejabat Lapas Kerobokan, anggota komplotan Bali Nine itu disunat jumat lalu di area tahanan muslim.
Dokter dan penjaga penjara tak mengetahui hal itu, hingga akhir pekan lalu. Merekka marah karena proses sunat itu melibatkan seseorang yang tidak punya kewenangan untuk menyunat.
Staf penjara telah menanyai motif Rush melakukan sunat -- dan menanyakan apakah dia telah masuk Islam. Sebab, Rush diketahui beragama Katolik dan berasal dari keluarga yang taat.
Rush bahkan pergi menghadiri misa di dalam lingkungan penjara minggu lalu.
Menurut kepala pendidikan dan rehabilitasi narapidana, Anang, Rush mengaku saat ini dia sedang mempelajari Islam.
"Jawabannya membingungkan," kata Anang, seperti dimuat laman Perth Now, Selasa 11 Mei 2010.
Sementara, dokter Lapas Kerobokan, Agung Hartawan mengaku bersyukur, sunat yang dilakukan Rush tidak membahayakan pria asal Australia itu, pendarahan juga tak terjadi di bekas sunatnya.
Hartawan juga sempat menanyakan apakah Rush sudah berpindah agama ke Islam. Jawabnya, "saya sedang mempelajari Islam," kata Hartawan, menirukan perkataan Rush.
Ketika ditanya lebih lanjut apakah orang tuanya mengetahui Rush telah disunat, dia hanya menjawab, "Ini adalah hak saya. Saya hanya ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam. Saya ingin mempelajari Islam," kata Rush.
Bersama dua anggota komplotan Bali Nine lainnya, Andrew Chan, Myuran Sukumaran sedang menunggu eksekusi mati. Namun, kejaksaan masih menunggu keluarnya fatwa hukuman mati dari Mahkamah Agung.
sesungguhnya yang melakukan sunat terhadap scott bukanlah orang yang tidak berkompeten untuk menyunat...yang melakukan adalah dr chalwan yg sudah lama sekali bergelut khusus di bidang sunat....hanya saja saat mengantar dr chalwan ke penjara untuk melakukan sunat ada beberapa orang pengantar yg memang bukan medis atau paramedis, mereka adalah ustadz...dan scott rush sudah masuk islam seminggu sebelum di sunat...para petugas penjara termasuk dokter yg bertugas di sana mengira mereka yg menyunat...padahal mereka hanya mengantar saja....
semoga info ini bisa menjelaskan dan meluruskan berita yang ada....
Secara sembunyi-sembunyi, Rush menjalani ritual sunat. Menurut pejabat Lapas Kerobokan, anggota komplotan Bali Nine itu disunat jumat lalu di area tahanan muslim.
Dokter dan penjaga penjara tak mengetahui hal itu, hingga akhir pekan lalu. Merekka marah karena proses sunat itu melibatkan seseorang yang tidak punya kewenangan untuk menyunat.
Staf penjara telah menanyai motif Rush melakukan sunat -- dan menanyakan apakah dia telah masuk Islam. Sebab, Rush diketahui beragama Katolik dan berasal dari keluarga yang taat.
Rush bahkan pergi menghadiri misa di dalam lingkungan penjara minggu lalu.
Menurut kepala pendidikan dan rehabilitasi narapidana, Anang, Rush mengaku saat ini dia sedang mempelajari Islam.
"Jawabannya membingungkan," kata Anang, seperti dimuat laman Perth Now, Selasa 11 Mei 2010.
Sementara, dokter Lapas Kerobokan, Agung Hartawan mengaku bersyukur, sunat yang dilakukan Rush tidak membahayakan pria asal Australia itu, pendarahan juga tak terjadi di bekas sunatnya.
Hartawan juga sempat menanyakan apakah Rush sudah berpindah agama ke Islam. Jawabnya, "saya sedang mempelajari Islam," kata Hartawan, menirukan perkataan Rush.
Ketika ditanya lebih lanjut apakah orang tuanya mengetahui Rush telah disunat, dia hanya menjawab, "Ini adalah hak saya. Saya hanya ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam. Saya ingin mempelajari Islam," kata Rush.
Bersama dua anggota komplotan Bali Nine lainnya, Andrew Chan, Myuran Sukumaran sedang menunggu eksekusi mati. Namun, kejaksaan masih menunggu keluarnya fatwa hukuman mati dari Mahkamah Agung.
sesungguhnya yang melakukan sunat terhadap scott bukanlah orang yang tidak berkompeten untuk menyunat...yang melakukan adalah dr chalwan yg sudah lama sekali bergelut khusus di bidang sunat....hanya saja saat mengantar dr chalwan ke penjara untuk melakukan sunat ada beberapa orang pengantar yg memang bukan medis atau paramedis, mereka adalah ustadz...dan scott rush sudah masuk islam seminggu sebelum di sunat...para petugas penjara termasuk dokter yg bertugas di sana mengira mereka yg menyunat...padahal mereka hanya mengantar saja....
semoga info ini bisa menjelaskan dan meluruskan berita yang ada....
Langganan:
Postingan (Atom)