Selamat datang di RUMAH SUNAT AL IKHWAH BALI

"Jadikan hidup anda lebih bersih dan sehat"

Rumah Sunat Al Ikhwah Bali (circumcision specialistic in Denpasar Bali dengan hipnoanestesi)

Rumah Sunat Al Ikhwah berdiri pada bulan juli 2006 dan sampai sekarang masih berkhidmad di dalam pelayanan jasa khitan untuk wilayah Bali dan sekitarnya, bahkan pasien yang datang sampai dari makasar, irian jaya, kupang, lombok, jogjakarta, banyuwangi, jember, jakarta, medan dan surabaya. usia pasien yang di layani di RSAI sangat bervariatif, dari umur 0 tahun sampai 90 tahun sering di tangani, tentunya dalam masalah khitan ini tidak ada kata terlambat, umur berapapun bisa dan tidak ada permasalahan. dokter yang bertugas di RSAI adalah dokter yang khusus menangani khitan atau sunat (spesialistik di bidang sunat/khitan), sehingga dari segi pengalaman dan kualitas sudah tidak di ragukan lagi. Yang terbaru adalah kombinasi antara hipnosis sederhana dan anestesi dengan minimal rasa sakit "HIPNOANESTESI", dengan metode bius ini sunat menjadi semakin nyaman dan benar2 bisa tanpa rasa sakit atau minimal sekali rasa sakit (pada anak-anak yang sudah siap sunat secara psikologis). kedepan RSAI akan senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan dan mengembangkan berbagai metode yang lebih canggih, cepat dan tepat untuk khitan atau sunat.

Arsip Blog

Kamis, 05 Desember 2019

OBAT ANTIBIOTIK ANTINYERI DAN VITAMIN APAKAH PERLU SETELAH SUNAT


Pada kesempatan yang berbahagia ini kami dari Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali ingin sedikit mengulas secara sederhana tentang penggunaan obat antibiotik, antinyeri dan vitamin setelah di lakukannya tindakan sunat. Pertanyaan mendasar yang muncul dalam benak kita adalah, apakah perlu sebenarnya pemberian antibiotik antinyeri dan vitamin pasca tindakan sunat, yang mana tindakan sunat itu sendiri merupakan salah satu luka yang masuk kriteria luka bersih, dalam artian dari awal sampai tindakan khitan selesai di lakukan dengan tehnik bersih dan steril yang meminimalisir adanya kontaminasi dari kuman atau kotoran di sekitar area sunat atau khitan. Oleh karena itu, perlulah dasar atau alasan mengapa setelah tindakan sunat pasien di berikan obat antibiotik dan antinyeri dan kadang-kadang di tambahkan vitamin atau multivitamin.
Sebelum kita membahas lebih lanjut, maka perlu kami jelaskan apa itu antibiotik antinyeri dan vitamin. Antibiotik adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengatasi dan mencegah infeksi bakteri. Obat ini bekerja dengan cara membunuh dan menghentikan bakteri berkembang biak di dalam tubuh. Antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengatasi infeksi akibat virus, seperti flu. Sedangkan antinyeri atau Analgesik merupakan istilah medis yang digunakan untuk golongan obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran, jadi analgetik adalah obat penghilang nyeri. Secara umum analgesik dapat digolongkan menjadi 2 golongan yaitu analgesik non-opioid dan analgesik opioid. Sedangkan vitamin atau multivitamin adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita yang berfungsi untuk membantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh.
Yang pertama mari kita bahas tentang pemberian antibiotik. Pada dasarnya luka sunat atau khitan itu sendiri karena merupakan luka bersih, tidaklah memerlukan pemberian antibiotik, dengan syarat kita yakin bahwa di dalam perawatan setelah di lakukannya tindakan sunat resiko terjadinya infeksi atau kontaminasi kuman pada luka bisa di minimalisir. Tentunya untuk meniadakan sama sekali adanya resiko tersebut sangatlah sulit, karena kita tidak bisa melihat ada atau tidaknya kuman, tau-tau kita sudah terinfeksi, padahal kita sudah sangat berhati-hati dan menjaga diri kita dari hal-hal yang bisa menyebabkan infeksi. Pemberian antibiotik itu sendiri memiliki tujuan profilaksis atau pencegahan terhadap resiko infeksi. Sebagaimana kita ketahui bersama, sunat merupakan tindakan bedah kecil, akan tetapi sekecil apapun suatu tindakan bedah, akan selalu ada resiko bermasalah seperti adanya kontaminasi kuman atau infeksi pada luka tersebut, sehingga mau tidak mau kita harus lebih berhati-hati, apalagi tindakan sunat atau khitan ini di lakukan pada organ yang sangat penting bagi kaum laki-laki, jadi wajar kalau kita harus lebih hati-hati dan melakukan tindakan antisipasi. Di Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali, hampir semua pasien setelah sunat di berikan antibiotik untuk tujuan mencegah terjadinya infeksi pasca sunat atau khitan. Akan tetapi pada kondisi khusus , misalnya pada bayi , biasanya kami tidak memberikan antibiotik, karena kami berasumsi bahwa bayi masih terlalu dini untuk mendapatkan “racun” sekelas antibiotik, dan biasannya proses pemulihan atau penyembuhan luka pada bayi cenderung lebih cepat di banding dengan usia yang lebih besar, hal ini bisa  di lihat proses pengeringan dan penyembuhan luka pada pusar bayi yang baru lahir, tanpa di kasih apa-apapun bisa kering dan sembuh dengan sendirinya dengan begitu cepat . Dan pada kondisi pasien yang memiliki alergi dengan antibiotik, dan tidak tahu antibiotik jenis apa yang menyebabkan, maka kami berhati-hati untuk lebih baik tidak memberikan obat antibiotik, karena apabila tetap kita berikan antibiotik , dan terjadi reaksi alergi, maka akan bisa timbul reaksi yang “berbahaya” dalam kondisi tertentu, tidak sekadar hanya gatal-gatal di seluruh tubuh, akan tetapi lebih dari itu, dan itulah yang kami takutkan dan benar-benar ingin kami hindari. Pemberian antibiotik pada pasien sunat itu sendiri tidak lebih dari 3 hari. Sebagaimana mekanisme dari penyembuhan luka, kurang lebih di atas 48 jam luka akan di penuhi oleh sel-sel pertahanan tubuh yaitu pasukan dari sel darah putih, sehingga di hari ke tiga ke atas luka sudah lebih tahan terhadap serangan kuman dari luar dan resiko infeksi menjadi jauh lebih kecil lagi, dan pemberian antibiotik untuk pencegahan sudah tidak di perlukan kembali.
Yang kedua adalah pemberian antinyeri. Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual dan potensial (Judha, Sudarti, Fauziah, 2012). Rasa nyeri merupakan mekanisme pertahanan tubuh, timbul bila ada jaringan rusak dan hal ini akan menyebabkan individu bereaksi dengan memindahkan stimulus nyeri. Intensitas nyeri merupakan gambaran seberapa parah nyeri yang dirasakan individu. Pengukuran intensitas nyeri sangat subyektif dan individual, dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan obyektif yang paling mungkin adalah menggunkan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2006). Jadi nyeri itu akan sangat berbeda-beda antara pasien yang satu dengan pasien yang lain, antara anak yang satu dengan anak yang lain. Jadi sangatlah kurang bijaksana apabila orangtua yang menyunatkan putranya membandingkan respon nyeri anak pasca di sunat antara anaknya dengan anak temennya atau anak tetangganya. Ada anak yang setelah di sunat tenang-tenang saja, tidak menangis, tidak rewel , akan tetapi ada anak yang setelah di sunat teriak-teriak kesakitan, menangis, rewel, jadi tidaklah sama antara anak yang satu dengan anak yang lain. Ambang batas nyeri tiap pasien akan berbeda-beda, adakalanya suatu rangsangan nyeri di rasakan berbeda antara pasien satu dengan pasien yang lain. Pasien satu menganggap tidak sakit sama sekali, akan tetapi pasien satunya merasakan sangat nyeri. Jadi, pemberian antinyeri di sini adalah untuk mengurangi rasa sakit yang di rasakan pasien atau anak yang di sunat pasca biusnya habis. Tentunya , mengurangi sangatlah beda dengan menghilangkan, itu yang perlu kita fahami, jadi tidak serta merta rasa nyeri setelah bius habis itu akan sirna, akan tetapi hanya berkurang saja, jadi masih akan merasakan adanya rasa sakit atau nyeri dengan tingkatan yang sangat bervariasi antar pasien yang satu dengan pasien yang lain. Perlu di ketahui, bahwa rasa nyeri yang paling berat akan di rasakan di saat bius mulai habis sampai benar-benar habis setelah tindakan sunat. Rasa sakit itu akan di rasakan beberapa menit sampai beberapa jam, akan tetapi biasanya sekitar setengah jam sampai satu jam berdasarkan pengalaman dari pasien-pasien yang di sunat di Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali. Jadi dari sini kami menjelaskan bahwa orangtua janganlah panik atau bingung tatkala tiba-tiba anaknya yang saat di sunat ketawa-ketawa, tenang-tenang, tidak kesakitan sama sekali, kemudian menangis sekeras-kerasnya dan berteriak-teriak, jadi itu merupakan hal yang wajar, walupun antinyeri telah di berikan pada si anak. Kondisi seperti itu akan hilang dengan sendirinya tidak lebih dari 1 jam, jadi orangtua harus tetap tenang, cukup di kipas-kipas anaknya agar merasa lebih nyaman. Setelah fase sakit bius habis terlewati, maka biasanya anak sudah tidak merasakan nyeri yang begitu berat, yang jauh berkurang rasa sakitnya dengan pemberian obat antinyeri. Obat antinyeri itupun di berikan kalau perlu saja, apabila pasien atau anak di lihat sudah tidak merasakan sakit tanpa pemberian obat antinyeri maka pemberiannya perlu di hentikan. Jadi yang perlu di garis bawahi di sini adalah, tujuan pemberian antinyeri adalah untuk mengurangi rasa sakit pasien atau anak pasca di lakukannya tindakan sunat dan di berikan kalau perlu saja.
Yang ketiga adalah pemberian multivitamin. Pemberian vitamin atau multivitamin disini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan vitamin pada pasien pasca sunat, dimana beberapa vitamin di perlukan di dalam proses penyembuhan luka, yaitu vitamin C, vitamin E dan vitamin A. Vitamin-vitamin tersebut bisa kita dapatkan dari makanan yang kita konsumsi, jadi jika sudah bisa kita penuhi dari makanan maka pemberian vitamin tersebut tidaklah di perlukan lagi.
Di dalam proses penyembuhan luka pasca sunat atau khitan, obat-obatan bukanlah hal yang utama, akan tetapi perawatan luka pasca di sunat itulah yang sangat penting. Jadi semakin bagus di dalam perawatan luka sunat, maka akan semakin tinggi tingkat kesembuhan, dan resiko terjadinya infeksi bisa di tekan sekecil mungkin, dengan begitu luka akan lebih cepat sembuh. Semoga pembahasan di atas bisa memberikan sedikit pencerahan tentang pemberian obat-obatan pasca sunat, dan kami dari Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali tetap bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dalam hal khitan atau sunat. Tentunya tak lupa slogan kami, sunat hanya sekali seumur hidup, berikan yang terbaik.

Rabu, 04 Desember 2019

BINGUNG MENCARI TEMPAT SUNAT ATAU KHITAN YANG BAGUS DI DENPASAR BALI


Pada kesempatan yang berbahagia ini kami dari Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali ingin mengulas beberapa kriteria singkat tentang bagaimana kita memilih praktisi atau dokter yang baik yang bisa memberikan pelayanan terbaik untuk kita. Tentunya bahasan ini kami ulas secara umum untuk kita memilih kriteria tenaga medis atau dokter yang akan menangani kita, jadi tidak terbatas hanya pada pemilihan dokter sunat atau khitan yang paling bagus yang akan kita cari. Disini kami Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali merupakan tempat sunat atau khitan yang telah berdiri sejak tahun 2006, dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya usia rumah sunat , kami berusah belajar dan belajar bagaimana cara terbaik di dalam menangani pasien sunat atau khitan. Tentunya penilaian dari masyarakat yang telah memeberikan kepercayaan kepada kami untuk tindakan khitan ini yang membuat kami senantiasa berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada para pasien sunat, dan insyaAllah akan selalu kami jaga amanah ini.
Bicara tentang kriteria dokter yang baik yang menjadi pilihan kita untuk menentukan dimana akan kita bawa anak kita atau keluarga kita berobat atau pada khususnya di sini adalah untuk melakukan tindakan sunat atau khitan, ada beberapa poin penting yang akan kami bahas. Tentunya apa yangkami bahas adalah berdasarkan referensi dari beberapa sumber dan pengalaman kami di dalam menangani pasien.
Yang pertama adalah memiliki wawasan yang luas. Tentunya dokter yang baik akan selalu belajar dan mengupdate kualitas keilmuanya dari waktu ke waktu. Ketika seorang dokter memutuskan menjalani profesinya secara totalitas, maka dia harus selalu melihat tentang perkembangan dari ilmu kedokteran. Ilmu kedokteran adalah ilmu yang sangat cepat di dalam perkembangannya, dimana di dasarkan pada jurnal dan penelitian terkini. Dimana bisa jadi hasil penelitian 10 tahun yang lalu akan di nyatakan salah atau tidak relevan di banding dengan hasil penelitian saat ini, ataupun sebaliknya yang dulu salah bisa jadi sekarang menjadi di benarkan. Disini dokter harus siap belajar dan belajar. Apa yang di sampaikan ke pada pasien haruslah memiliki dasar  keilmuan dan tidak asal bicara saja.
Yang kedua adalah mampu menjelaskan dan memberi pemahaman kepada pasien. Dalam hal ini komunikasi antara dokter dan pasien menjadi faktor yang sangat penting di dalam hubungan dokter pasien. Komunikasi harus berjalan secara dua arah, dokter harus bisa mendengarkan keluh kesah dari pasien dan pasien juga seyogyanya terbuka akan segala keluhannya kepada dokter yang memeriksa. Pada pasien sunat atau khitan dokter tidak hanya berhadapan dengan pasien sunat berbagai usia dengan berbagai tingkat kesulitan dalam hal komunikasi, akan tetapi juga berhadapan dengan keluarga pasien dengan berbagai tingkat kondisi yang berbeda-beda. Tentunya banyak faktor yang mempengaruhi bagaimana cara komunikasi yang baik , tentunya akan berbeda ketika kita menjumpai pasien dengan latar belakang tingkat ekonomi berkecukupan dengan pasien dengan latar belakang ekonomi yang “kurang”. Tentunya pasien dengan tingkat pendidikan tinggi akan berbeda dengan pasien denga latar belakang hanya lulus SD atau SMP. Kita sebagai tenaga medis atau dokter harus bisa menempatkan diri dan sabar dalam menghadapi berbagai tipe dan model dari pasien dan keluarganya.
Yang ketiga adalah memiliki jam terbang dan pengalaman yang tinggi . tentunya di sini pengalaman dan jam terbang di dalam menangani pasien berkaitan erat dengan kualitas dari seorang dokter di dalam menangani pasien. Semakin beragam tipe dan tingkat kesulitan dari pasien yang di tangani akan semakin kaya akan khasanah ilmu tentang penanganan terhadap pasien. Dalam hal ini kami di Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali telah bertahun-tahun menagani pasien sunat dengan berbagai tingkat kesulitan, dari yang paling sederhana sampai pasien dengan tingkat kesulitan tinggi. Dari awal memang kami hanya berkhidmad untuk menagani pasien sunat atau khitan, sehingga bisa dikatakan dokter yang menjadi operator dinsini adalah dokter yang memang khusus menangani pasien sunat, sehingga sangat hafal dengan segala kondisi dari pasien sunat itu sendiri.
Yang keempat adalah selalu siap kapan saja jika di butuhkan oleh pasien. Di dalam mejalani profesinya sebagai seorang dokter, sudah seyogyanya siap membantu dan menolong pasien kapan saja dan dimana saja. Bahkan tidak berat untuk memberikan no hp nya kepada pasien, sehingga pasien dengan mudah bisa menghubungi dokter nya apabila ada masalah atau pertanyaan atau ada keluhan atas tindakan atau penanganan atau obat yang di berikan oleh dokter. Tentunya pasien juga harus memiliki adap atau etika kapan bisa menghubungi dokternya, tidak seenaknya telp atau sms atau wa ke dokternya. Dokter juga manusia biasa , punya banyak kekurangan dan salah sehingga kadang kala ada hal-hal yang bergesekan dengan emosi dan ego , tatkala capek , kurang tidur, kurang istirahat melanda sehingga kadangkala ada oknum dokter yang kurang baik kepada pasien. Akan tetapi seorang dokter harus bisa memberikan pelayanan terbaik kapan di buthkan oleh pasien. Di Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali rata-rata pasien sudah daftar jauh-jauh sebelum proses sunat, akan tetapi adakalanya ada pasien yang secara mendadak harus di lakukan tidakan sunat oleh karena sebab tertentu seperti tidak bisa kencing dan anaknya kesakitan sekali, maka saat itu jam berapapun kami di minta untuk menangani pasien kami akan siap.
Yang kelima adalah memiliki reputasi dan nama baik. Tentunya hal ini sangat penting sekali bagi seorang praktisi medis atau dokter. Tatkala dia memiliki satu aja penilaian buruk atau negatif dari pasien, dan apabila orang yang memberikan penilaian negatif atau buruk tersebut merupakan orang terpercaya dan tokoh masyarakat, maka dokter tersebut harus siap-siap dijauhi oleh pasiennya. Ibarat peribahasa nila setitik rusak susu sebelanga, jadi akibat satu aja catatan buruk maka catatan baik yang telah susah payah di raih selama ini akan sirna seketika, dan tidak mudah di dalam usaha membalikkan nama baik. Oleh karena itu seorang dokter, di dalam hal ini pada khususnya dokter sunat atau khitan , harus memiliki reputasi dan nama baik dan berusaha untuk bisa mempertahankannya dan tidak merusaknya sampai kapanpun. Alhamdulillah kami di Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali, berusaha untuk selalu menjaga reputasi dan nama baik, sehingga dari waktu ke waktu kami bisa selalu menjadi prioritas pertama di dalam jasa penanganan sunat atau khitan.
Yang keenam adalah tidak berorientasi pada uang. Di dalam hal ini , sebagai seorang dokter , harus meniatkan pertama kali untuk menolong pasien, menolong masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan optimal yang di cita-citakan, alias menggapai hidup sehat. Jangan menjadikan uang sebagai prioritas dari apa yang menjadi niat mulia seorang dokter. Uang hanyalah apresiasi dari pelayanan profesional yang telah di berikan dokter kepada pasien, tentunya ketika pasien merasa puas akan pelayanan yang di berikan dokter maka mereka akan rela memberikan sebagian rejekinya kepada dokter yang telah menanganinya. Di sini seorang dokter yang baik akan bisa memilah dan memilih kapan harus menangani pasien tanpa pamrih misalkan ketika yang di tangani adalah orang yang tidak mampu, anak yatim, anak yatim piatu, keluarga miskin dan ketika yang di tangani adalah pasien yang berada, kaya atau berkecukupan. Di sanalah kapabilitas seorang dokter yang memliki jiwa sosial akan dapat terlihat dengan jelas.
Yang ketujuh adalah mampu menciptakan suasana positif kepada pasien. Di saat pertama kali pasien masuk ke ruang dokter , maka di sanalah mulai seorang dokter membangun suasana positif kepada pasien, 3S (senyum salam sapa) harus di dahulukan oleh seirang dokter. Dalam hal pasien sunat atau khitan, hampir 70 persen adalah adalah anak-anak, yang mana mereka memiliki tingkat kesiapan psikologi yang sangat beraneka ragam. Ada anak yang ketika masuk ruang sunat merasa senang dan tersenyum lebar, artinya anak tersebut benar-benar telah siap di dalam menjalani proses sunat. Ada anak yang masuk ruang sunat langsung menangis tersedu-sedu, artinya anak ini masih belum siap benar untuk menjalani proses khitan. Ada anak yang masuk ruang sunat dengan wajah datar antara mau nangis atau tidak, ini artinya anak masih setengah-setengah di dalam kesiapannya untuk sunat. Pun pada pasien dewasa juga demikian, akan terlihat dari raut wajah ketika pasien masuk ruang sunat dan bertatap muka dengan dokternya. Di sinilah peran dokter sangatlah penting di dalam membangun suasana dan menenangkan pasien atau keluarga pasien jika pasiennya anak-anak. Seorang dokter sunat atau khitan harus sangat sabar dalam menghadapi baik pasien maupun keluarga pasien. Jangan sampai dokter terpancing emosi saat menghadapi keluarga pasien atau pasien yang sikapnya tidak sesuai dengan yang di harapkan. Dokter harus menjadi pendingin susana tatkala suasana tegang, panas , menakutkan saat seorang pasien akan menjalani tindakan medis tertentu. Oleh karena itu, pengalaman akan menjadi guru terbaik bagi seorang dokter di dalam hal penanganan pasien, semakin terasah jiwa dan mental seorang dokter dengan semakin sering menangani pasien dengan segala jenis tingkat kesulitan yang berbeda-beda dari tiap pasien.
Dari uraian di atas alangkah baiknya kita sebagai masyarakat bisa secara bijaksana menilai seorang dokter atau praktisi medis, karena dokter juga manusia biasa punya salah punya khilaf, dokter bukan malaikat yang tindakannya selalu benar dan juga bukan lah setan yang selalu di anggap salah. Di dalam memilih , baiknya kita telusuri lagi dari sumber yang terpercaya, dari keluarga, teman dekat, tetangga, tokoh masyarakat yang memahami kapabilitas dari seorang dokter yang akan menjadi prioritas kita dalam mendapatkan pelayanan medis. Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas semoga kita masyarakat bisa lebih bijaksana di dalam menentukan kepada dokter mana akan kita percayakan, tentunya di sini pada khususnya dalam hal sunat atau khitan. Carilah yang terbaik di antara sekian yang di anggap baik. Tentunya seperti biasa , sunat atau khitan hanya sekali, berikanlah yang terbaik, carilah fasilitas sunat terbaik yang bisa memberikan kualitas terbaik dalam hal sunat atau khitan. Salam sehat dan bersih selalu dari kami Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali.

Selasa, 03 Desember 2019

SUNAT PAKAI METODE APA YA YANG PALING BAGUS


Pada kesempatan yang berbahagia ini kami dari Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali ingin mengulas tentang satu pertanyaan yang sering muncul di benak para pasien sunat atau orang tua yang ingin menyunatkan putranya. Kira-kira apa ya metode yang paling bagus atau paling tepat di pakai saat proses sunat atau khitan. Tentunya untuk menjawab pertanyaan tersebut , sebelumnya perlu kami jelaskan dahulu apa saja metode sunat atau khitan itu, kemudian mengulas sedikit tentang kelebihan dan kekurangannya. Semua metode yang di ngunakan pastilah memiliki kelebihan dan kekurangan, tentunya tidak ada yang sempurna 100 persen, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT ,he he he he . sunat atau khitan ini sendiri sudah ada sejak sangat lama sekali, sejak jaman Nabi Ibrahim AS, dimana saat itulah mulai di syariatkan atau di perintahkan kaum laki-laki untuk bersunat.  Jadi ajaran sunat ini sebenarnya tidak hanya untuk umat Islam , akan tetapi untuk umat setelah kenabian Ibrahim As, yaitu termasuk kristen dan yahudi. Untuk kaum Yahudi sampai sekarang masih mewajibkan sunat bagi umatnya, sedangkan untuk  Kristen tidak mewajibkan untuk sunat dengan alasan religius dari agama Kristen itu sendiri yang tidak kami bahas di sini, jadi untuk teman-temang Kristen banyak yang sunat akan tetapi ada juga yang tidak, balik kepada keyakinan masing-masing. Kalau untuk umat Islam jelas wajib bagi laki-laki, untuk perempuan tidak wajib, jadi untuk perempuan di dalam islam bisa di sunat bisa tidak. Proses sunat perempuan dan laki-laki juga berbeda, dan tidak kami bahas di sini.
Secara garis besar kami bagi terlebih dahulu metode sunat ini menjadi 2 garis besar yaitu , metode di jahit dan metode tidak di jahit. Metode di jahit itu contohnya adalah metode konvensional, electrickauter, laser CO2 , Bipolar. Sedangkan metode yang tidak di jahit seperti semua metode klamp atau clemp, stapler, tradisional. Sekarang kami ingin menjelaskan tentang luka sunat itu sendiri. Seperti apakah sebenarnya luka sunat itu? Apakah luka sunat adalah luka yang sederhana? Luka lecet sedikit? Luka yang tidak dalam? Atau luka yang seperti apa?.  Kadangkala beberapa kalangan yang tidak memahami perihal luka sunat ini menyepelekannya. Jadi menganggap kalau luka sunat ini adalah luka yang biasa yang bisa sembuh dengan sendirinya dalam 3 hari atau 1 minggu seperti luka lecet sedikit di tangan atau di kaki akibat tergores. Tentunya tidaklah sesederhana itu kita melihat luka sunat, kita haruslah memahami terlebih dahulu anatomi dari kulit yang di potong saat proses sunat itu sendiri. Jadi luka sunat adalah luka potong pada kulit preputium atau kulit bagian depan dari penis yang menutupi kepala penis. Jadi bukan hanya sekedar luka gores. Kulit yang di potong ada 2 lapisan , yaitu lapisan kulit bagian luar yang berwarna gelap kecoklatan dan kulit bagian dalam yang berwarna lebih terang. Kedua lapisan kulit itulah yang di potong saat proses sunat atau khitan. Setelah di potong maka akan kelihatan luka terbuka antara ke dua lapisan kulit yang saya sebutkan di atas. Proses penyembuhan di tandai dengan menyatunya kedua lapisan kulit tersebut. Lapisan kulit yang saya jelaskan di atas memberikan jawaban kepada yang selama ini bingung, sunat itu apanya yang di jahit, jadi kedua lapisan kulit tersebut yang di satukan dengan jahitan.
Jadi sedikit keterangan di atas menjelaskan mengapa beberapa praktisi sunat melakukan penjahitan pada luka sunat atau khitan. Kenapa harus dijahit, tentunya agar kedua lapisan kulit yang sudah di potong tidak terbuka sehingga luka sunat lebih cepat sembuh. Dari fisiologi penis itu sendiri kami ingin menjelaskan bahwa penis bukanlah organ tubuh yang statis, akan tetapi merupakan organ tubuh manusia yang sangat dinamis, bahkan sejak bayi kemampuan penis untuk ereksi atau bahasa jawanya “ngaceng” ini sudah terlihat. Saat anak mau buang air kecil biasanya penis akan mengeras memanjang membesar dan kemudian kencing. Dari sini lah beberapa praktisi atau dokter sunat menyimpulkan bahwa akan lebih aman apabila luka sunat tersebut di jahit, karena saat penis ereksi atau membesar dan memanjang, maka dengan adanya jahitan luka sunat memiliki resiko yang sangat kecil untuk terbuka , karena sudah ada yang memegang atau mengikat yaitu jahitannya itu sendiri. Tentunya kami di Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali biasanya akan menyarankan untuk menggunakan metode ini apabila kita ingin luka sunat lebih aman lebih kuat dan resiko luka terbuka jauh lebih kecil. Terutama pada penis ukuran remaja atau dewasa ke atas kami mewajibkan untuk luka harus di jahit. Kenapa harus di jahit, alasanya adalah pada penis dengan ukuran dewasa atau mendekati dewasa ke atas biasanya secara hormonal sudah terbentuk sistem hormon laki-laki, sehingga saat ereksi akan jauh lebih besarjauh lebih panjang dan ketika luka ini tidak di jahit maka saat ereksi luka akan terbuka lebar dan menampakkan kondisi yang mengerikan dengan adanya luka terbuka itu. Mungkin saat tidak ereksi penis tidak terlalu besar dan tidak terlalu panjang, tapi saat ereksi bisa memanjang berkali-kali lipat dan membesar 2 kali lipat atau lebih dari ukuran saat tidak ereksi. Karena alasan itulah mengapa harus di jahit. Kalau untuk anak-anak bisa dijahit bisa tidak, tergantung dari orangtua dari pasien sunat memilih yang mana.
Untuk di Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali, kami pun menyediakan metode yang di jahit maupun yang tidak di jahit. Akan tetapi kami lebih sering menangani metode yang di jahit, alasan kami adalah metode yang di jahit akan memberikan keamanan lebih pada luka seperti yang kami sebutkan di atas. Tentunya kami ingin memberikan yang terbaik pada semua pasien rumah sunat, kami tidak ingin resiko-resiko seperti luka terbuka, perdarahan, luka lama sembuh terjadi pada pasien-pasien kami. Dari sana kami memilih metode yang sangat minimal keluhan dan sudah di pakai selama bertahun-tahun. Sebagaimana kami sampaikan bahwa ketika liburan sekolah tiba, pasien di Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali akan membludak banyak sekali. Kami biasa menangani pasien dari pagi setelah subuh sampai hampir jam 12 malam setiap hari. Jadi dengan pasien sebanyak itu kami ingin meminimalisir adanya keluhan dan masalah pada pasien. Tentunya jika ada masalah pada pasien sunat akan mengganggu konsentrasi dari pelaksanaan pasien sunat di Rumah Sunat.
Sekarang mari kita kembali ke judul artikel ini, yaitu metode sunat apa yang paling bagus. Tentunya semua metode bagus , tinggal kita sebagai orang tua atau pasien yang sunat lebih mantap atau sreg memilih metode yang mana. Tentunya pertimbangan dari kondisi pasien yang di sunat harus menjadi acuan ketika kita memilih metode apa. Misalnya, anak yang di sunat ini tidak bisa diam, aktivitasnya tinggi, lari-lari kesana kemari, tingkahnya banyak, maka lebih baik memilih metode yang di jahit sehingga lukanya aman. Jika anaknya tenang , diam, tidak banyak tingkah, maka boleh lah kita memilih metode yang tidak dijahit semisal metode klamp. Akan tetapi kalau ukuran penis sudah remaja atau dewasa ke atas ya pilihannya ya harus di jahit. Kalau masalah harga kami kira tidak jauh berbeda antara beberapa metode. Tapi kami pada prinsipnya memilih metode yang paling efektif dari segi tingkat kesembuhan, minimal resiko bermasalah, dan ekonomis, sehingga bisa masuk di semua kalangan. Jangan sampai ada yang bilang sunat itu mahal. Padahal sebenarnya tidak mahal, berapapun biaya sunat, sunat tetaplah seumur hidup sekali dan manfaatnya seumur hidup. Jadi tidak ada kata mahal sebenarnya untuk sunat. Bandingkan ketika kita sakit dan harus berobat ke dokter spesialis, berapa dana yang kita keluarkan, dan itu bisa berulang, sedangkan sunat cuman sekali saja. Oleh karena itu , sunat atau khitan ini hanya sekali seumur hidup, berikanlah yang terbaik, cari praktisi atau dokter sunat terbaik menurut Anda, yang Anda mantap dan sreg saat menjalani proses sunat untuk Anda sendiri atau putra anda. Untuk di Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali sendiri kami mengedepankan kenyamanan pasien saat di sunat, karena itulah yang utama. Ketika anak atau pasien yang di sunat merasa nyaman, tenang, senang tidak kesakitan, tidak ketakutan, maka tindakan sunat atau khitan ini tidak lagi menjadi hal yang menakutkan dan menjadi momok bagi anak-anak dan pasien yang berencana untuk khitan, apapun metodenya, yang penting pasien nyaman.
Akhir kata semoga kami dari Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali selalu bisa memberikan pelayanan sunat atau khitan terbaik. Semoga artikel ini bisa bermanfaat, jika ada salah dan kurang lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

PROSES PENYEMBUHAN LUKA


Pada kesempatan ini kami dari Rumah Sunat AL Ikhwah Sesetan Denpasar Bali ingin menulis artikel ringan tentang apa saja proses yang terjadi setelah luka. Dimana pelayanan kami adalah pelayanan sunat atau khitan, sehingga mau tidak mau akan sangat erat sekali hubungannya dengan adanya luka , pada khususnya adalah luka sunat. Tentunya metode apapun yang di gunakan dalam proses sunat atau khitan pastilah akan menimbulkan luka. Tidak ada sunat yang tidak menimbulkan luka, seperti yang pernah kami ulas sebelumnya tentang seorang anak yang mengaku telah di sunat oleh Jin. Padahal sebenarnya di sunat oleh jin tidaklah ada, karena secara ilmiah bisa dijelaskan kondisi seperti itu. Jadi suatu kondisi dimana dari lahir memang kulit preputium atau kulit penis anak tersebut memanglah pendek atau sedikit, sehingga suatu ketika kulit tersebut tertarik ke belakang dan menampakkan kondisi seperti penis yang telah di sunat atau khitan. Jadi bukan di sunat oleh jin, sehingga tidak ada luka sama sekali alias langsung sembuh. Jadi setiap tindakan sunat atau khitan sudah pastiakan muncul adanya luka. Di sini lah kami ingin membahas perihal proses penyembuhan luka secara sederhana dengan bahasa yang sederhana.
Apakah itu luka?, Luka adalah kondisi rusaknya kontinuitas dari struktur jaringan tubuh yang ada pada kulit. Luka terbagi menjadi beberapa jenis yakni:
·         Luka bersih adalah luka akibat tindakan operasi menggunakan teknik steril
·         Luka bersih terkontaminasi adalah luka akibat sayatan benda tajam namun bersih dan rapi, misalnya pada penegakkan operasi usus halus dan bronchial
·         Luka kontaminasi adalah luka yang mengalami kontaminasi oleh lingkungan tidak higienis, atau operasi pada saluran yang terinfeksi seperti usus besar dan saluran kemih
·         Luka infeksi adalah luka yang disertai infeksi, jaringan rusak, dan defisiensi vaskularisasi pada jaringan luka
Dari keterangan di atas di manakah letak luka sunat bisa kita simpulkan. Luka sunat masuk di dalam luka bersih, dimana luka yang dibuat dari awal dalam kondisi bersih dan steril. Semua alat dan bahan yang di pakai di dalam proses sunat atau khitan adalah dalam kondisi steril. Jarum yang di pakai adalah sekali pakai. Sebelum proses sunat juga telah dilakukan tindakan desinfeksi, yaitu tindakan membersihkan daerah lapangan operasi sunat dengan cairan antiseptik desinfektan. Sehingga pada hakekatnya luka sunat adalah luka bersih, itu yang perlu kita fahami. Akan tetapi setelah proses sunat telah lewat maka banyak faktor yang bisa menyebabkan luka yang bersih akan tetap bersih atau akhirnya menjadi luka bersih yang terinfeksi.
Nah sekarang kita masuk ke tahap proses penyembuhan luka, mulai dari terjadinya luka sampai penyembuhan total. Di sini kami ingin menjelaskan secara singkat saja tentang fase apa saja yang di lalui selama proses penyembuhan luka. Ada tiga fase secara garis besar, yaitu yang pertama adalah fase inflamasi, yang kedua adalah fase proliferasi dan yang ketiga adalah fase maturasi. Mari kita bahas satu persatu dari ketiga fase yang terjadi saat luka.
Yang pertama adalah fase inflamasi. Fase inflamasi ini terbagi menjadi 2 fase, yaitu inflamasi awal (hemostatis) dan inflamasi akhir (lag phase).
    Inflamasi Awal (Hemostatis). Saat jaringan kulit mengalami luka, pembuluh darah akan pecah dan mengakibatkan perdarahan. Pada kondisi ini, tubuh secara otomatis akan memberikan reaksi yang disebut sebagai inflamasi awal (hemostatis) guna menghentikan perdarahan tersebut. caranya, tubuh akan ‘mengerahkan’ faktor koagulasi (intrinsik dan ekstrinsik) sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah yang lantas menyebabkan penggumpalan trombosit pada area luka. Aktivitas ini berujung pada pembekuan darah. Setelahnya, pembuluh darah akan kembali melebar guna memberikan jalan bagi darah menuju luka.
Inflamasi Akhir (Lag Phase). Setelah darah membeku, maka yang dilakukan oleh tubuh selanjutnya adalah mengirimkan ‘pasukan’ sel darah putih (leukosit) guna mencegah terjadinya infeksi agen mikrobial patogen, pun membuang jaringan rusak yang telah mati. Leukosit dan sel radang akut akan menyerang area peradangan guna membasmi bakteri dan debris matriks sekuler. Fase penyembuhan luka inflamasi akhir (lag phase) terjadi 5 hari pasca trauma luka muncul.
Fase yang kedua adalah fase proliferasi. Setelah fase inflamasi, proses penyembuhan luka berlanjut pada fase proliferasi, di mana fase penyembuhan luka ini berlangsung dari hari ke-3 hingga 2 minggu pasca trauma. Proliferasi diawali oleh aktivitas fibroblast men-sintesis kolagen dan proteoglikan yang menghasilkan jaringan parut (terjadi di hari ke-5 pasca luka). Kolagen sendiri adalah protein yang berfungsi untuk meningkatakan tensi dari permukaan kulit yang terluka. Produksi kolagen yang memadai kemudian makin memperkuat tensi permukaan kulit sehingga luka tertutup dengan baik. Fase proliferasi diakhiri dengan tumbuhnya jaringan epitel, yang mana ini berperan dalam meningkatkan aliran darah menuju area luka. Darah akan menyalurkan nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan jaringan untuk melancarkan proses penyembuhan luka.
Fase yang ketiga adalah fase maturasi. Proses penyembuhan luka yang terakhir adalah maturasi. Fase penyembuhan luka ini dimulai pada hari ke-20 pasca luka dan berakhir dalam kurun waktu tahunan (1-2 tahun). Di sini, fibroblast secara berkelanjutan akan mensintesis kolagen, yang berdampak pada mengecilnya area luka, penurunan elastisitas kulit, dan munculnya garis putih di sekitar luka. Setelah itu, timbul jaringan parut yang memiliki tensi atau kekuatan serupa dengan jaringan yang sudah rusak akibat luka. Kendati begitu, kulit baru secara penampilan tidak sama dengan kulit lama, terutama dari aspek kelenturan kulit. Kulit baru cenderung tidak selentur kulit sebelum mengalami luka. Hal ini dikarenakan elastin, protein yang berperan dalam membentuk kelenturan kulit, tidak dapat diproduksi kembali seperti halnya kolagen.
Jadi dari penjelasan di atas sangatlah jelas sekali bahwa tidak ada luka yang langsung sembuh. Semua butuh proses yang harus di lalui sampai akhirnya luka menyembuh sempurna. Jadi jangan ada lagi perdebatan mengenai ada atau tidak sunat yang langsung sembuh. Dari uraian di atas sudah cukup bisa menjawab pertanyaan tersebut. Akan tetapi memang kondisi setiap pasien akan berbeda dengan kondisi pasien yang lain, tidak akan pernah sama. Sangat banyak faktor yang mempengaruhi di dalam proses penyembuhan luka. Apasaja faktor yang mempengaruhi akan kami bahas tersendiri di bahasan yang lain. Semoga penjelasan ini bisa memeberi jawaban atas pertanyaan kita semua mengenai luka.
Akhir kata semoga tulisan ini bisa sedikit memberikan pencerahan perihal proses penyembuhan luka , pada khususnya luka sunat. Semoga kami dari Rumah Sunat Al Ikhwah Sesetan Denpasar Bali selalu bisa memberikan pelayanan yang terbaik kepada semua pasien sunat atau khitan. Sunat hanya sekali seumur hidup, berikan yang terbaik , salam sehat dan bersih selalu.