Selamat datang di RUMAH SUNAT AL IKHWAH BALI

"Jadikan hidup anda lebih bersih dan sehat"

Rumah Sunat Al Ikhwah Bali (circumcision specialistic in Denpasar Bali dengan hipnoanestesi)

Rumah Sunat Al Ikhwah berdiri pada bulan juli 2006 dan sampai sekarang masih berkhidmad di dalam pelayanan jasa khitan untuk wilayah Bali dan sekitarnya, bahkan pasien yang datang sampai dari makasar, irian jaya, kupang, lombok, jogjakarta, banyuwangi, jember, jakarta, medan dan surabaya. usia pasien yang di layani di RSAI sangat bervariatif, dari umur 0 tahun sampai 90 tahun sering di tangani, tentunya dalam masalah khitan ini tidak ada kata terlambat, umur berapapun bisa dan tidak ada permasalahan. dokter yang bertugas di RSAI adalah dokter yang khusus menangani khitan atau sunat (spesialistik di bidang sunat/khitan), sehingga dari segi pengalaman dan kualitas sudah tidak di ragukan lagi. Yang terbaru adalah kombinasi antara hipnosis sederhana dan anestesi dengan minimal rasa sakit "HIPNOANESTESI", dengan metode bius ini sunat menjadi semakin nyaman dan benar2 bisa tanpa rasa sakit atau minimal sekali rasa sakit (pada anak-anak yang sudah siap sunat secara psikologis). kedepan RSAI akan senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan dan mengembangkan berbagai metode yang lebih canggih, cepat dan tepat untuk khitan atau sunat.

Arsip Blog

Sabtu, 30 Januari 2010

Sunat Kurangi Resiko Penyakit Seks Menular

Sunat Kurangi Resiko Penyakit Seks Menular
Lihat Gambar
BERI KOMENTAR CETAK ARTIKEL INI DAFTAR MAILING LIST KIRIM KE TEMAN KOMENTAR FANS HUGH JACKMAN
Rabu, 08 November 2006 11:11
KapanLagi.com - Pria yang dikhitan terbukti jarang sekali tertular infeksi yang menular melalui hubungan seksual dibanding mereka yang belum disunat.

Dalam jurnal Pediatrics terbitan November 2006, khitan bisa mengurangi resiko tertular dan menyebarkan infeksi sampai sekitar 50 persen, yang menyarankan manfaat besar mengenai sunat bagi bayi yang baru lahir.

Studi saat ini hanya satu dari sekian studi untuk mengupas lebih jauh tentang topik kontroversial ini. Meskipun berbagai studi mendapati bahwa sunat bisa mengurangi tingkat HIV (virus penyebab AIDS), sipilis, dan borok pada alat kelamin, hasil tersebut bercampur dengan penyakit lain yang menular melalui hubungan seks (STD).

Academy of Pediatrics, Amerika menyebut bukti tersebut "rumit dan bertentangan", karena itu mereka menyimpulkan bahwa, untuk saat ini, bukti tersebut tak memadai untuk mendukung khitan rutin pada bayi yang baru lahir.

Seperti dikutip dari Reuters, Selasa (07/11/06), para peneliti menganalisis data yang dikumpulkan Christchurch Health and Development Study, yang mencakup kelompok kelahiran anak dari Selandia Baru.

Dalam studi ini pria dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan status sunat sebelum usia 15 tahun dan kelompok yang mengalami infeksi menular melalui hubungan seks antara usia 18 dan 25 tahun yang ditentukan melalui sebuah kuisioner.

Sebanyak 356 anak laki yang tak dikhitan memiliki resiko 2,66 kali serangan infeksi yang menular melalui hubungan seks dibandingkan dengan 154 anak laki yang disunat, jelas pemimpin peneliti Dr. David M. Fergusson dan rekan dari Christchurch School of Medicine and Health Sciences.

Selain itu, sebagian besar resiko yang berkurang tersebut tak berubah setelah diperhitungkannya faktor pemicu yang potensial, seperti jumlah pasangan seks dan hubungan seks tanpa pelindung.

Para ilmuwan itu memperkirakan bahwa kalau saja khitan rutin pada bayi yang baru dilahirkan telah dilembagakan, angka infeksi yang menular melalui hubungan seks dalam kelompok saat ini tersebut mungkin telah berkurang setidaknya 48 persen.

Analisis tersebut memperlihatkan manfaat sunat dalam mengurangi resiko infeksi yang menyerang melalui hubungan seks mungkin sangat banyak.

"Masalah kesehatan masyarakat yang diangkat dalam temuan ini jelas melibatkan pertimbangan manfaat jangka panjang bagi khitan rutin pada bayi yang baru dilahirkan dalam mengurangi resiko infeksi di dalam masyarakat, berbanding perkiraan biaya prosedur tersebut," tambah mereka. (rtr/ant/rit)

Demi Janda, Muallaf Asal Bali Rela Disunat Umur 47 Tahun

beritajatim.com
Reporter : Harisandi Savari
Pamekasan - Cinta memang butuh pengorbanan. Mungkin itulah kata yang tepat disandangkan pada I Nyoman Buana (47), warga Desa Braban, Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali.

Pasalnya, demi cintanya pada Farida (35), janda dua anak di Desa Larangan Badung Kecamatan Palenga'an, I Nyoman Buana pergi dari Bali untuk menemui Faridah di Pamekasan pada, Senin (18/5/2009) lalu sekitar Pukul 20.00 malam.

Untuk apa? Ya, pemilik nama baru Muhammad Burhanuddin ini mengaku tak tahan ditinggalkan Faridah selama 4 bulan.

Burhanuddin alias I Nyoman Buana menceritakan, selama di Bali, dirinya tak bisa melupakan kepribadian Faridah yang luar biasa. Yakni, ketaatannya pada sang Kuasa serta kepribadiannya yang sangat halus.

Selama 4 bulan tak bertemu Faridah, lanjut Burhan, dirinya memutuskan menyusul Faridah ke Madura. "Saya akui, Faridah merupakan sosok wanita yang luar biasa. Dia sempurna menurut saya," katanya.

Namun, tak mudah bagi Burhan. Untuk melamar Faridah, oleh Kiai dan tokoh masyarakat setempat diharuskan masuk islam dan melakukan sunat atau khitan. Alasannya, laki-laki yang belum melakukan khitan maka belum suci secara keseluruhan.

"Ya Mas, jika belum dikhitan atau disunat maka saat kencing, masih ada sisa-sisa yang najis," kata KH. Mawardi.

KH. Mawardi yang merupakan pemilik Ponpes Al Karomah, Palenga'an mengatakan, saat pertama kali menemui I Nyoman Buana, dirinya langsung menanyakan pada I Nyoman apakah ada unsur paksaan dalam masuk Islam.

"Untunglah, dia (I Nyoman) mengatakan tidak sama sekali. Dia hanya mengatakan bahwa dari Faridah lah dirinya mengenal Islam. Agama yang baru diketahuinya mengejarkan kelembutan hati," ungkapnya.

Saat itu, lanjut Mawardi, disaksikan tokoh masyarakat, dirinya menjadikan I Nyoman Buana sebagai muallaf. Dan, berganti nama Mohammad Burhanuddin.

Setelah Burhan masuk Islam. Akhirnya, pada Selasa malam (19/5/2009) Pukul 18.00, Burhan dikhitan. Burhan yang bekerja sebagai sopir itu, akhirnya memutuskan untuk selamanya tinggal di Pamekasan.

"Ada yang belum saya pelajari Mas, yaitu Islam. Saya harus bisa mendalami Islam pada Kiai Mawardi. Semoga saja, saya bisa mengaplikasikannya," pungkasnya. [san/kun]

WHO dan UNAIDS merekomendasikan : Sunat Laki-laki untuk Pencegahan HIV

15 May 2007
WHO dan UNAIDS merekomendasikan : Sunat Laki-laki untuk Pencegahan HIV.

Dari hasil pertemuan di Paris, Geneva , yang diadakan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Sekretariat UNAIDS mempertemukan para ahli internasional dalam sebuah konsultasi untuk menentukan apakah sunat laki-laki sebaiknya dianjurkan bagi upaya pencegahan infeksi HIV dalam rangka mengurangi penyakit HIV secara global.
Para ahli yang menghadiri konsultasi tersebut menganjurkan agar sunat laki-laki kini diakui sebagai suatu intervensi penting tambahan yang dapat mengurangi risiko penularan HIV lewat hubungan heteroseksual bagi laki-laki. Konsultasi internasional tersebut diselenggarakan dari 6-8 Maret 2007 di Montreux, Switzerland, dan dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari berbagai sektor, termasuk pemerintahan, masyarakat sipil, peneliti, aktivis hak asasi manusia dan kesehatan perempuan, orang muda, lembaga donor dan para mitra pelaksana.
Bukti kuat dari tiga ujicoba terkendali secara acak yang dilakukan di Kisumu, Kenya; Distrik Rakai, Uganda (dibiayai oleh US National Institutes of Health) dan Orange Farm, Afrika Selatan (dibiayai oleh French National Agency for Research on AIDS) bahwa sunat laki-laki mampu mengurangi risiko infeksi HIV melalui hubungan heteroseksual pada laki-laki sebesar 60%. Hal ini mendukung berbagai temuan dari penelitian-penelitian observasi yang juga menyiratkan bahwa hubungan geografis yang telah lama digambarkan antara prevalensi HIV yang lebih rendah dan tingkat sunat laki-laki yang lebih tinggi dalam beberapa negara di Afrika.
Sunat laki-laki sebaiknya menjadi bagian dari paket komprehensif pencegahan HIV
Sunat laki-laki harus selalu dipertimbangkan sebagai bagian dari paket komprehensif pencegahan HIV, yang termasuk penyediaan pelayanan testing dan konseling HIV (untuk mencegah timbulnya perasaan aman yang keliru dan melakukan perilaku berisiko tinggi sehingga menghambat perlindungan parsial yang didapat dari sunat laki-laki).;pengobatan untuk infeksi menular seksual; promosi praktik-praktik seks aman; serta penyediaan kondom laki-laki dan perempuan dan promosi terhadap cara penggunaan kondom yang tepat dan konsisten.
�Dapat merekomendasikan metode pencegahan HIV tambahan merupakan langkah yang signifikan menuju pengendalian epidemi ini,� kata Catherine Hankins, Associate Director, Bagian Kebijakan, Bukti dan Kemitraan di UNAIDS. �Namun kita harus jelas: sunat laki-laki tidak memberikan perlindungan menyeluruh terhadap HIV. Laki-laki dan perempuan yang menganggap sunat laki-laki sebagai alat pencegahan HIV harus terus menggunakan berbagai bentuk perlindungan lain seperti kondom laki-laki dan perempuan, menunda debut seksual dan mengurangi jumlah pasangan seksual.�
Pelayanan kesehatan harus diperkuat untuk menyediakan pelayanan berkualitas yang aman
Banyak pelayanan kesehatan di negara-negara berkembang yang lemah dan kekurangan jumlah profesional kesehatan. Sehingga ada kebutuhan untuk memastikan bahwa pelayanan sunat laki-laki untuk pencegahan HIV tidak mengganggu program-program perawatan kesehatan lainnya, termasuk intervensi HIV/AIDS lainnya. Untuk mengoptimalkan kesempatan yang diberikan dari sunat laki-laki dan memastikan keberlangsungan jangka panjang bagi pelayanan tersebut, sunat laki-laki, sebagaimana mungkin, perlu diintegrasikan dengan pelayanan lain.
Risiko yang dihadapi dari sunat laki-laki secara umum rendah, namun dapat berakibat serius bila sunat dilakukan di tempat yang tidak higienis dan dilakukan oleh penyedia layanan yang tidak ahli, atau dengan peralatan yang tidak memadai. Maka, pelatihan dan sertifikasi bagi penyedia layanan, selain juga program-program monitoring dan evaluasi yang cermat, dibutuhkan bagi tempat-tempat yang menyediakan layanan sunat laki-laki, untuk memastikan bahwa tujuan dari sunat terpenuhi dan pelayanan berkualitas diberikan dengan aman dalam kondisi tersanitasi, dengan peralatan yang memadai dan dengan pelayanan konseling yang tepat.
Sunat laki-laki memiliki konotasi budaya yang kuat sehingga membutuhkan penyediaan layanan dengan cara yang sensitif secara budaya dan yang dapat meminimalisir stigma yang mungkin diasosiasikan dengan status sunat. Negara-negara sebaiknya memastikan bahwa sunat laki-laki disediakan dengan kepatuhan penuh terhadap etika medis dan prinsip-prinsip hak asasi manusia, termasuk persetujuan dengan informasi, kerahasiaan, dan tidak adanya paksaan.
Memaksimalkan manfaat kesehatan masyarakat
Dampak kesehatan masyarakat yang signifikan mungkin akan terjadi begitu pelayanan sunat laki-laki pertama kali diberikan di tempat dimana penularan HIV melalui hubungan hetereseksual tingkatnya tinggi. Sehingga direkomendasikan bagi negara-negara dengan prevalensi tinggi dan epidemi umum HIV heteroseksual yang sekarang memiliki tingkat sunat laki-laki yang rendah untuk dengan segera memutuskan adanya peningkatan terhadap akses pelayanan sunat laki-laki. Manfaat lebih cepat bagi masyarakat akan tercapai bila kelompok usia yang paling tinggi berisiko terkena HIV dapat diprioritaskan, walaupun menyediakan pelayanan sunat laki-laki kepada kelompok usia yang lebih muda akan lebih memberi dampak jangka panjang bagi kesehatan masyarakat. Contoh-contoh yang ada menunjukkan bahwa sunat laki-laki di Afrika sub-Sahara dapat mencegah 5.7 juta kasus infeksi HIV baru dan 3 juta kematian dalam waktu 20 tahun.
Para ahli yang hadir dalam pertemuan menyetujui bahwa sunat laki-laki yang hemat biaya ini dapat diterima sebagai alat pencegahan HIV dan, bila dilihat dari kemungkinan manfaat kesehatan bagi masyarakat untuk memperluas pelayanan sunat laki-laki, negara-negara harus juga mempertimbangkan menyediakan pelayanan tersebut secara gratis, atau dengan harga termurah untuk pasien, seperti juga untuk pelayanan penting lainnya.
Di negara-negara dimana epidemi HIV terkonsentrasi pada kelompok-kelompok populasi tertentu seperti pekerja seks, pengguna napza suntik atau laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, dampak kesehatan masyarakat dari promosi sunat kepada masyarakat umum akan terbatas. Namun mungkin tetap ada manfaat individu bagi laki-laki berisiko tinggi dari infeksi HIV melalui hubungan heteroseksual.
Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menyediakan informasi pengembangan program
Para ahli pada pertemuan tersebut mengidentifikasi beberapa area dimana penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menyediakan informasi untuk pengembangan program-program sunat laki-laki. Hal ini termasuk dampak sunat laki-laki terhadap penularan seksual dari laki-laki HIV positif kepada perempuan, dampak sunat laki-laki terhadap kesehatan perempuan untuk alasan-alasan selain penularan HIV (misalnya tingkat kanker cervix yang lebih rendah), risiko dan manfaat sunat laki-laki bagi laki-laki HIV positif, manfaat perlindungan dari sunat laki-laki dalam homoseksual atau heteroseksual anal intercourse, serta penelitian mengenai sumberdaya yang dibutuhkan, dan yang paling efektif, untuk memperluas kualitas pelayanan sunat laki-laki. Penelitian untuk menentukan apakah ada modifikasi persepsi dan perilaku berisiko jangka panjang untuk laki-laki yang telah sunat untuk pencegahan HIV, dan dalam masyarakat mereka, juga dibutuhkan.

sumber : un.or.id

Rabu, 27 Januari 2010

Pria yang Disunat Lebih Disukai

Minggu, 20/12/2009 15:09 WIB
Pria yang Disunat Lebih Disukai

Nurul Ulfah - detikHealth

img
Ilustrasi ( Foto: mynewsletterbuilder)
Chicago, Studi terbaru melaporkan bahwa wanita merasa lebih puas berhubungan seks dengan pria yang disunat ketimbang dengan pria yang tidak disunat. Kebersihan alat kelamin pria sangat menentukan kepuasan wanita.

Beberapa pakar sebelumnya pernah berasumsi bahwa dengan memangkas kulit kepala penis (menyunat), kenikmatan wanita dalam berhubungan seks menjadi berkurang. Namun peneliti dari Uganda membantahnya dengan membuktikan bahwa para wanita justru merasa puas setelah pasangannya disunat.

Meski demikian, Dr Ronald H Gray mengatakan efek kepuasan tersebut tidak terlalu signifikan, bahkan tidak berpengaruh sama sekali pada pria itu sendiri. Studi dilakukan dengan mewawancara 455 wanita berusia 15 hingga 49 tahun, sebelum dan sesudah suaminya disunat.

Hasilnya, 177 wanita (39,8 persen) mengaku mengalami peningkatan kepuasan seksual setelah suaminya disunat. Sementara itu, hanya 13 wanita (2,9 persen) yang
dilaporkan mengalami penurunan tingkat kepuasan seks.

Alasan utama yang banyak disebutkan wanita yang mengalami tingkat kepuasan seks adalah karena tingkat higienis (kebersihan) yang lebih baik pada pria yang disunat. Alasan lainnya adalah frekuensi orgasme pria maupun wanita yang lebih sering, kemampuan mempertahankan ereksi yang lebih baik dan hasrat seksual pria yang lebih besar.

Studi ini semakin menguatkan bahwa sunat pada pria membawa manfaat yang besar. Sebelumnya peneliti pernah membuktikan bahwa sunat pria mencegah risiko penyebaran HIV. Bahkan di Uganda, Kenya dan Afrika Selatan, penurunan tingkat infeksi HIV dengan teknik sunat bisa mencapai 50 hingga 60 persen.

"Studi ini sangat penting dan unik. Di Afrika timur dan selatan, tingginya prevalensi infeksi HIV berkorelasi dengan rendahnya tingkat penyunatan. Jika kita bisa meningkatkan proporsi pria yang disunat maka prevalensinya akan turun pada 10 hingga 20 tahun mendatang. Opini wanita tentang kepuasan seksual yang dirasakannya setelah pasangannya disunat juga bisa membantu," kata Dr Robert C Balley dari University of Illnois at Chicago School of Public Health seperti dilansir Health24, Minggu (20/12/2009).

(fah/ir)

Minggu, 15 November 2009

Hindari AIDS dan PMS, Negara Asia-Pasifik Sepakat Gunakan Sunat

Hindari AIDS dan PMS, Negara Asia-Pasifik Sepakat Gunakan Sunat
Agustus 11th, 2009

Nusa Dua - Negara-negara Asia Pasifik sepakat untuk segera mengimplementasikan sunat sebagai salah satu upaya dari pencegahan penularan HIV/AIDS.

Kesepakatan ini merupakan salah satu bagian dari hasil Kongres Ke-9 tentang AIDS se-Asia-Pasifik (ICAAP) di Nusa Dua Bali (11/8).

Ketua Kongres Ke-9 ICAAP Prof. Dr Zubairi Djoerban menyatakan kesepakatan implementasi sunat ini berdasarkan hasil rekomendasi badan kesehatan dunia atau WHO. Selain itu penelitian di beberapa negara seperti Thailand, Filiphina dan Amerika juga menunjukkan betapa efektifnya sunat dalam menghindari seseorang terjangkiti penyakit menular seksual.

Selanjutnya Zubairi Djoerban juga mengakui bahwa pengembangan sunat sebagai salah satu pencegahan penularan HIV/AIDS hingga saat ini masih terbentur pada masalah perbedaan agama, kendati sunat telah terbukti secara ilmiah.

”Kemudian bagaimana dengan sara bagaimana dengan agama, Kemudian kita harus membuka data lagi, tadikan Filipina itu walaupun kristen tetapi semua disunat, Kemudian Amerika itu 80% disunat” ujar Prof. Dr Zubairi Djoerban.

Ketua Kongres Ke-9 ICAAP Prof. Dr Zubairi Djoerban menambahkan dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS kedepan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik juga diingatkan untuk memberlakukan universal akses terutama terhadap akses kesehatan kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Selain itu Negara-negara kawasan Asia-Pasifik juga direkomendasikan untuk mewujudkan kesetaraan gender sebagai salah satu langkah antisipasi diskriminasi pada ODHA.(Mul)

Selasa, 10 November 2009

Sunat Cegah Kanker Mulut Rahim

8/12/2008 - 21:44
[increase] [decrease]
Sunat Cegah Kanker Mulut Rahim
Ediya Moralia

INILAH.COM, Jakarta � Jangan pernah takut disunat. Sebab, sunat ternyata membawa banyak manfaat. Selain melindungi pria dari virus mematikan AIDS, sunat juga bisa mencegah virus penyebab kanker mulut rahim pada perempuan.

Laporan Journal of Infectious Diseases tampaknya akan menambah jumlah perdebatan apakah pria - dan bayi yang baru lahir - mesti disunat untuk melindungi kesehatan mereka. Juga, tentang kemungkinan kesehatan pasangan seks mereka pada masa depan.

Dr Bertran Auvert dari University of Versailles di Prancis dan rekannya di Afrika Selatan memeriksa lebih dari 1.200 pria yang datang ke sebuah klinik di Afrika Selatan. Mereka mendapati fakta bahwa kurang dari 15% pria yang disunat dan 22% pria yang tak disunat tertular virus papilloma manusia, HPV. Virus ini penyebab utama kanker mulut rahim dan kutil di kelamin.

"Temuan ini menjelaskan mengapa perempuan dengan pasangan yang disunat menghadapi risiko yang lebih rendah untuk terserang kanker mulut rahim, dibandingkan dengan perempuan yang memiliki pasangan tidak disunat," tulis para peneliti tersebut.

Dokumen kedua yang menjadikan pria AS sebagai obyek penelitian memperoleh hasil yang kurang jelas. Namun Carrie Nielson dan rekannya dari Oregon Health & Science University mengatakan mereka mendapati petunjuk bahwa sunat mungkin melindungi pria.

Mencegah AIDS

Sementara itu, Lee Warner dari US Centers for Disease Control and Prevention dan rekannya meneliti pria Amerika-Afrika di Baltimore. Hasilnya, 10% dari mereka yang disunat menghadapi risiko tinggi tertular HIV. Angka itu masih di bawah 22% pria tak disunat yang berisiko tertular virus yang sama.

"Sunat berhubungan dengan sangat berkurangnya risiko HIV. Hasil studi lain yang memperlihatkan pengurangan risiko HIV di kalangan pria heteroseksual dapat digeneralisir dalam konteks AS," tulis mereka.

Berbagai studi yang mendukung sunat bisa mengurangi penularan HIV telah dilakukan di Afrika. Dr Ronald Gray dari John Hopkins University di Baltimore dan rekannya mengatakan mereka mendapat laporan itu membesarkan hati.

"Di Amerika Serikat, sunat kurang umum di kalangan pria Hispanik dan Afro-Amerika, yang juga adalah sub-kelompok yang memiliki risiko paling tinggi untuk terinfeksi HIV," tulis mereka. Dari situ, mereka menarik kesimpula, sunat sangat mungkin memberi cara perlindungan tambahan terhadap HIV pada kelompok dengan risiko paling kecil ini.

Tetapi mereka menyatakan American Academy of Pediatrics (AAP) tak menyarankan sunat rutin bagi bayi yang baru dilahirkan. "Sebagai konsekuensi dari keputusan AAP ini, Medicaids (program asuransi medis) tak mencakup biaya sunat, dan ini sangat tak menguntungkan bagi anak laki-laki Hispanik dan Amerika Afrika yang lebih miskin, yang saat dewasa mungkin menghadapi risiko tinggi terhadap HIV," tulis Gray dan rekannya.

"Juga patut diperhatikan bahwa angka sunat telah turun di AS, mungkin akibat kurangnya cakupan Medicaid," kata mereka.

Sebanyak 33 juta orang di dunia tertular AIDS yang belum ada obat atau vaksinnya. HPV adalah infeksi yang paling umum menular melalui hubungan seks di dunia, dan 20 juta orang di AS telah terinfeksi. HPV menyebabkan kanker mulut rahim. Sebanyak 300.000 perempuan di dunia setiap tahun telah tewas akibat virus ini. [I4]

Selasa, 03 November 2009

Sunat Mencegah Penularan AIDS

Suara Pembaharuan Online, 17 April 2009

[JAKARTA] Sunat (circumcision) mencegah berbagai penyakit, termasuk penularan AIDS, dan telah dipraktikkan di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat (AS) dan Kanada, dan di banyak negara di Afrika serta juga di Asia. Badan Kesehatan Nasional AS (NHANES) menemukan, 79 persen laki-laki di AS disunat, bahkan pada kulit putih (non-Hispanic white men) mencapai 88 persen.

Profesor Zubairi Djoerban, Rabu (15/4), di Jakarta mengatakan, data itu diperoleh dari majalah kedokteran Sexually Transmitted Diseases terbitan Juli 2007, dan informasi dari CDC HIV/AIDS Science Facts: Male Circumcision and Risk for HIV Transmission and Other Health Conditions, Implications for the United State, February 2008.

Dia mengatakan, sunat terbukti menurunkan risiko infeksi saluran air kemih. Bayi yang tidak disunat mempunyai berisiko 7-14/ 1.000 mengalami infeksi saluran air kemih. Bandingkan dengan bayi yang disunat, hanya 1-2/1.000 bayi yang akan terinfeksi saluran kemih.

Suatu penelitian di AS, yang menyertakan 15.000 bayi membuktikan bahwa sunat amat efektif mencegah kanker, balanoposthitis dan fimosis. Sunat mengurangi risiko penularan HIV dari laki-laki ke perempuan, dan menekan kejadian kanker leher rahim pada pasangannya.

Hanya 5 Persen

Sunat pada warga kulit putih di AS (sekitar 70 -80 persen), ujarnya, memang lebih banyak dilaksanakan dibandingkan dengan kulit hitam (sekitar 60 persen), selain itu ada data yang signifikan, angka kejadian infeksi HIV yang memang lebih rendah pada kulit putih dibanding warga kulit hitam.

Dijelaskan, pada New England Journal Medicine 11 April 2002 dilaporkan hasil penelitian, yakni diteliti 1.913 pasangan studi kasus terkontrol yang terkait dengan kanker leher rahim yang berasal dari 5 negara. Hasilnya, infeksi HPV (Human papilloma Virus) pada penis ditemukan pada 19,6 persen laki-laki yang tidak disunat.

Bandingkan dengan hanya 5 persen infeksi HPV pada laki-laki yang disunat. Penelitian tersebut juga dilakukan di Spanyol, Colombia, Brasil, Thailand dan Filipina.

"Jadi, jelas manfaat sunat mengurangi risiko penularan virus HPV dari laki-laki ke perempuan. Infeksi HPV merupakan salah satu penyebab terjadinya kanker leher rahim, dengan demikian maka sunat dan menurunkan risiko kanker leher rahim pada pasangan karena menurunkan risiko infeksi HPV pada penis," katanya. [N-4]

Sumber: Suara Pembaharuan Online