Selamat datang di RUMAH SUNAT AL IKHWAH BALI

"Jadikan hidup anda lebih bersih dan sehat"

Rumah Sunat Al Ikhwah Bali (circumcision specialistic in Denpasar Bali dengan hipnoanestesi)

Rumah Sunat Al Ikhwah berdiri pada bulan juli 2006 dan sampai sekarang masih berkhidmad di dalam pelayanan jasa khitan untuk wilayah Bali dan sekitarnya, bahkan pasien yang datang sampai dari makasar, irian jaya, kupang, lombok, jogjakarta, banyuwangi, jember, jakarta, medan dan surabaya. usia pasien yang di layani di RSAI sangat bervariatif, dari umur 0 tahun sampai 90 tahun sering di tangani, tentunya dalam masalah khitan ini tidak ada kata terlambat, umur berapapun bisa dan tidak ada permasalahan. dokter yang bertugas di RSAI adalah dokter yang khusus menangani khitan atau sunat (spesialistik di bidang sunat/khitan), sehingga dari segi pengalaman dan kualitas sudah tidak di ragukan lagi. Yang terbaru adalah kombinasi antara hipnosis sederhana dan anestesi dengan minimal rasa sakit "HIPNOANESTESI", dengan metode bius ini sunat menjadi semakin nyaman dan benar2 bisa tanpa rasa sakit atau minimal sekali rasa sakit (pada anak-anak yang sudah siap sunat secara psikologis). kedepan RSAI akan senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan dan mengembangkan berbagai metode yang lebih canggih, cepat dan tepat untuk khitan atau sunat.

Arsip Blog

Sabtu, 10 Oktober 2015

Sunat Perempuan, Adakah Dampak Kesehatannya?

Jakarta - Sunat perempuan di Indonesia masih menjadi kontroversi. Namun pada 2010 Kemenkes mengeluarkan Permenkes yang menyebut sunat perempuan adalah tindakan menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris, tanpa melukai klitoris. Nah, jika pratik ini dilakukan adakah dampak kesehatannya? "Kalau sunat wanitanya atau sirkumsisi dilakukan dengan memotong selaput di atas klitoris, karena ada anjuran agama dan kultural, menurut saya masih sah-sah saja," terang seksolog dr Andri Wananda MS, dalam perbincangan dengan detikHealth, Rabu (26/6/2013). dr Andri menjelaskan dalam melakukan sirkumsisi juga harus hati-hati. Sebab jika tenaga kesehatannya tidak kompeten, malah bisa melukai klitoris dan menimbulkan jaringan ikat, yaitu jaringan yang muncul kalau ada luka. Nah, jika hal ini terjadi malah bisa membuat klitoris jadi tak peka terhadap rangsangan. "Sedangkan kalau sunat wanita yang disebut klitoridektomi, yaitu memotong klitoris dan labia minora atau bibir kelamin, ini yang menurut saya perlu ditentang," lanjut dr Andri. Kliroris fungsinya penting untuk stimulus seksual wanita, sedangkan pada labia minora ada kelenjar-kelenjar yang mengeluarkan cairan pelumas vagina. Nah kalau ini dihilangkan, tentunya wanita tidak dapat menikmati hubungan seksualnya. "Apalagi jika sampai vaginanya kering saat bercinta, kan sakit nantinya," ucap dr Andri. "Belum nanti ada risiko infeksi karena melukai klitoris. Klitoris ini ada yang bilang penisnya wanita," imbuh pengajar di Universitas Taruma Negara ini. Dijelaskan dr Andri, di Afrika biasanya untuk menakut-nakuti anak gadis agar mau disunat biasanya dikatakan jika klitoris tak dipotong, maka bisa berkembang menjadi penis. Bahkan ada juga sunat yang mengangkat lebih banyak lagi jaringan vagina. "Ini yang lebih berisiko dan merugikan wanita," ucap dokter berkacamata ini. Sementara itu Priya Subroto, peneliti Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mengatakan jika sunat perempuan dilakukan dengan memotong klitoris, maka selain menimbulkan dampak kesehatan juga menimbulkan dampak emosional. Mengingat di klitoris ada saraf-saraf dan pembuluh darah, maka secara fisik pemotongan bisa mengakibatkan perdarahan. "Dari segi psikis karena tempat rangsangan, maka bisa dibayangkan jika wanita kehilangan pusat rangsangannya, ini bisa jadi penderitaan seumur hidup untuknya. Dan ini adalah salah satu dampak jangka panjangnya," terang Priya. "Bahkan dibahas dalam sebuah buku mengenai varian bentuk vagina kalau bentuknya jelek ada tenaga medis yang melihat ini jadi seperti bagian dari estetika jadinya, padahal ini tidak bagus dilakukan," imbuhnya. Berkembang pendapat sunat perempuan dilakukan untuk mengendalikan nafsu seksual perempuan. Menurut Priya, jika disunat habis maka perempuan tersebut tidak bisa merasakajn apa-apa. "Ada dibilang kepuasan tertentu itu bisa dicapai kurang dari 9 menit, bahkan kalau lebih dari 9 menit bisa jadi penyiksaan bagi wanitanya. Bayangkan kalau dia tidak punya klitoris," lanjut Priya. Jika seorang perempuan tidak punya klitoris maka justru mempercepat hubungan intim. "Perempuannya juga bisa orgasme lebih cepat kalau terbalik ya justru bisa jadi tidak terkendali, orang nggak sampai-sampai orgasmenya," imbuhnya. "Yang jelas ini kontroversi. Dan yang buat statement itu kan laki-laki, jadi dia tidak mengerti bagaimana anatomi perempuan," tambah Priya. Putro Agus Harnowo - detikHealth