Selamat datang di Rumah Sunat Al Ikhwah

"Jadikan hidup anda lebih bersih dan sehat"

Rumah Sunat Al Ikhwah (circumcision specialistic in Denpasar Bali dengan hipnoanestesi)

Rumah Sunat Al Ikhwah berdiri pada bulan juli 2006 dan sampai sekarang masih berkhidmad di dalam pelayanan jasa khitan untuk wilayah Bali dan sekitarnya, bahkan pasien yang datang sampai dari makasar, irian jaya, kupang, lombok, jogjakarta, banyuwangi, jember dan surabaya. usia pasien yang di layani di RSAI sangat bervariatif, dari umur 0 tahun sampai 90 tahun sering di tangani, tentunya dalam masalah khitan ini tidak ada kata terlambat, umur berapapun bisa dan tidak ada permasalahan. dokter yang bertugas di RSAI adalah dokter yang khusus menangani khitan atau sunat (spesialistik di bidang sunat/khitan), sehingga dari segi pengalaman dan kualitas sudah tidak di ragukan lagi. Yang terbaru adalah kombinasi antara hipnosis sederhana dan anestesi dengan minimal rasa sakit "HIPNOANESTESI", dengan metode bius ini sunat menjadi semakin nyaman dan benar2 bisa tanpa rasa sakit atau minimal sekali rasa sakit (pada anak-anak yang sudah siap sunat secara psikologis). kedepan RSAI akan senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan dan mengembangkan berbagai metode yang lebih canggih, cepat dan tepat untuk khitan atau sunat.

Selasa, 03 November 2009

Khitan di Usia Dewasa

Khitan di Usia Dewasa

Penelitian terbaru menunjukkan khitan di usia dewasa berpengaruh terhadap performa seksual pria bersangkutan. Ereksinya jadi berlangsung lebih lama dibandingkan sebelum dikhitan. Walau begitu, bukan berarti khitan ‘obat manjur’ ejakulasi dini.

Penelitian sebelumnya, yang membandingkan sensitivitas penis pria dewasa yang tidak dikhitan dan yang dikhitan sejak kecil, menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata. Namun jika khitan dilakukan setelah dewasa, sensitivitas penis berubah ke arah yang positip.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Temucin Senkul, urology dari GATA Haydarpasa Training Hospital di Istambul, Turki, 42 pria yang semuanya berusia 22 tahun secara sukarela mendaftar untuk dikhitan.

Seluruh sukarelawan adalah heteroseksual dan dalam kondisi kesehatan prima yang tak memerlukan obat-obatan untuk mendapatkan ereksi. Sebelum dikhitan, mereka diwawancarai dokter tentang gairah seksual, ereksi, ejakulasi, masalah seksual yang dihadapi dan kepuasan secara menyeluruh.

Mereka juga diminta untuk ‘mengukur’ berapa lama ereksi dapat dipertahankan sebelum ejakulasi dalam tiga sesi hubungan seksual terakhir. Tiga bulan setelah dikhitan, mereka diwawancarai dengan pertanyaan yang sama.

Hasilnya, mereka melaporkan semuanya berjalan sama seperti sebelumnya, kecuali waktu yang dibutuhkan untuk ejakulasi jadi lebih lama. Senkul memperkirakan sensitivitas penis berkurang setelah dikhitan sehingga memperlambat pencapaian klimaks.

“Atau bisa jadi khitan membuat mereka lebih percaya diri sehingga mampu menahan ereksinya lebih lama.

Yang jelas khitan di usia dewasa sama sekali tidak ‘merusak’ performa seksual seorang pria,” katanya.

“Waktu yang lebih lama untuk ejakulasi justru bisa dianggap sebagai keuntungan daripada kerugian,” tambah Senkul. Walau begitu ia tak ingin ada interpretasi bahwa khitan merupakan ‘obat’ untuk ejakulasi dini, mengingat penyebab ejakulasi dini bisa amat kompleks. (astaga)

Tidak ada komentar: